curhatibu.com

Mengelola Ekspektasi Terhadap Anak

Kadang saya sadar sih, sebagai ibu kita sering punya banyak ekspektasi ke anak.

Harus rajin. Harus bisa. Harus cepat paham.

Kalau dipikir-pikir, wajar nggak sih kita punya keinginan seperti itu?
Namanya juga orang tua, pasti ingin anaknya tumbuh jadi versi terbaik dari dirinya, iya kan?

Niatnya sebenarnya sederhana: ingin yang terbaik buat mereka.
Kita ingin mereka nggak kesulitan seperti yang mungkin dulu kita rasakan.
Kita ingin mereka lebih siap menghadapi dunia.

Tapi lama-lama saya sadar… sering kali yang saya sebut “keinginan baik” itu justru terasa seperti tuntutan bagi anak. Dan jujur ya, ini kadang nggak terasa di awal.

Kita pikir kita sedang membimbing.
Padahal di sisi lain, anak mungkin sedang merasa ditekan.

Pernah nggak sih, kita ngomong:

“Kan Mama sudah ajarin…”
“Harusnya kamu sudah bisa…”

Dan di situ kita merasa itu hal yang wajar. Tapi kalau dipikir lagi… itu lebih ke harapan, atau sudah berubah jadi tuntutan ya?

Ketika anak tidak seperti yang kita bayangkan, rasanya langsung campur aduk.
Kecewa. Kesal. Capek.

Kadang juga muncul pikiran,

“kok sudah diajarin, tapi masih begitu juga?”

Dan kalau sudah di titik itu… kita jadi lebih mudah terpancing emosi, iya nggak sih?

Padahal kalau ditarik lagi ke dalam…
apakah yang membuat kita kesal itu benar-benar perilaku anak?
Atau karena realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita?

Nah, ini yang waktu itu cukup “kena” ke saya.

Sampai bulan lalu saya belajar tentang ekspektasi ini dari workshop Tazkiya Therapy Prof. Bagus Riyono. Di situ perspektif saya agak dibalik.

Ternyata, ekspektasi itu rasanya seperti kita sedang menetapkan:

“ini harus terjadi.”



Ada nada “harus” di sana.
Dan tanpa sadar, “harus” itu kita arahkan ke anak.

Berbeda dengan harapan (hope).
Harapan itu lebih seperti doa.

Lebih lembut. Lebih lapang.
Lebih memberi ruang… bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk diri kita sendiri.

Kita ingin yang terbaik untuk anak.
Kita tetap berusaha membimbing mereka.
Kita tetap mengajarkan, mengingatkan, mendampingi.

Tapi hasil akhirnya… kita kembalikan kepada Allah.

Di sini saya mulai mikir,
selama ini saya mendidik sambil menggenggam hasilnya terlalu erat nggak ya?

Seolah-olah semua harus sesuai dengan timeline saya.
Sesuai dengan standar saya.
Sesuai dengan bayangan saya.

Padahal… anak juga manusia yang punya prosesnya sendiri, iya nggak?

Ketika saya mulai menggeser ekspektasi menjadi harapan…
dan rasanya hati jadi jauh lebih ringan.

Bukan berarti jadi “ya sudah terserah anak”, bukan itu.
Tapi lebih ke… kita tetap berusaha, tanpa memaksa hasil.

Kalau harapan itu terwujud, kita bersyukur.
Rasanya hangat banget.

Kalau belum terjadi?
Kita masih bisa menerima dengan lebih lapang.

Karena sejak awal kita sadar…
itu adalah doa, bukan tuntutan.

Dan doa itu kan memang tidak selalu dikabulkan sesuai waktu yang kita mau, iya kan?

Kadang Allah kabulkan nanti.
Kadang diganti dengan yang lebih baik.
Kadang justru lewat proses yang bikin kita, dan anak kita,bertumbuh.

Di titik itu saya juga mulai bertanya ke diri sendiri:
selama ini saya lebih sering “menuntut” atau “mendoakan” ya?

Karena ternyata beda rasanya…
dan beda juga dampaknya ke anak.

Kalau kita menuntut, anak bisa merasa tidak cukup.
Kalau kita mendoakan, anak merasa didukung.

Dan mungkin… yang anak butuhkan bukan orang tua yang sempurna,
tapi orang tua yang mau terus belajar seperti ini.

Ya, nggak harus langsung benar semua, gak papa. 

Ibuk-ibuk pernah merasa seperti ini juga?
Atau jangan-jangan… lagi ada di fase yang sama? 👀

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)