curhatibu.com

Kenapa Banyak Ibu Ingin Konsisten, Tapi Selalu Merasa Gagal

 Ada banyak ibu yang sebenarnya memiliki keinginan sederhana untuk dirinya sendiri.

Ingin rutin menulis.
Ingin membaca buku lagi.
Ingin belajar hal baru.
Ingin membuat konten.
Atau sekadar membangun kebiasaan kecil yang terasa “punya ruang untuk diri sendiri”.

Niatnya sering dimulai dengan penuh semangat.

Hari pertama berhasil. Hari kedua masih berjalan. Hari ketiga mulai sedikit terganggu.

Lalu tiba-tiba anak sakit lah.
Rutinitas rumah berubah karena harus mutasi kerja lah
Ada pekerjaan yang menumpuk dari klien.
Atau hari yang rasanya memang melelahkan

Akhirnya kegiatan itu terhenti lagi. Mulai deh, muncul bisikan-bisikan : 

“Kenapa aku tidak bisa konsisten?”
“Kenapa orang lain bisa, tapi aku tidak?”
“Mungkin aku memang tidak disiplin.”

Perasaan gagal itu sering datang bukan karena kita tidak mencoba. Justru sering muncul setelah kita berusaha berkali-kali. Padahal ada kemungkinan lain yang jarang kita pertimbangkan, seperti : 

Masalahnya mungkin bukan pada niat kita. Bukan juga pada kemampuan kita untuk disiplin. Masalahnya bisa jadi ada pada cara kita memahami konsistensi itu sendiri.





Kita Mengukur Diri dengan Standar Konsistensi yang Salah

Banyak dari kita tanpa sadar memakai definisi konsistensi yang sangat kaku.

Konsisten berarti:

  • harus dilakukan setiap hari
  • tidak boleh bolong
  • harus stabil
  • harus terus meningkat

Standar ini sering kita temui di buku pengembangan diri, konten produktivitas, atau cerita orang-orang yang terlihat sangat teratur hidupnya.

Masalahnya, sistem seperti itu biasanya lahir dari kehidupan yang relatif stabil.

Orang yang memiliki:

  • jam kerja yang jelas
  • waktu fokus yang bisa diprediksi
  • lingkungan yang lebih terstruktur.

Sementara kehidupan rumah tangga jarang berjalan seperti itu.

Misalnya kita membuat target sederhana: “Aku akan menulis setiap hari.”

Di atas kertas, target ini terdengar masuk akal.
Bahkan terasa ringan.

Tapi realitasnya sering berbeda.

Hari ini anak rewel. Besok ada pekerjaan rumah yang lebih banyak.
Lusa ada tamu datang. Hari berikutnya badan terasa sangat lelah.

Akhirnya target itu terlewat. Dan setiap kali terlewat, kita merasa gagal lagi.

Padahal mungkin bukan kita yang gagal. Mungkin standarnya yang tidak cocok dengan realitas hidup kita.

Kehidupan Rumah Tangga Memang Dinamis

Banyak ibu berharap hari-harinya bisa berjalan rapi seperti jadwal.

Pagi melakukan ini.
Siang mengerjakan itu.
Sore ada waktu untuk kegiatan pribadi.

Kita membayangkan produktivitas seperti kalender yang tertata. Namun kehidupan rumah tangga sering bergerak dengan cara yang berbeda. Rencana pagi bisa berubah dalam hitungan menit. 

Mungkin kita sudah menyiapkan waktu untuk menulis.
Tapi tiba-tiba anak bangun lebih cepat dari biasanya.

Atau siang hari ada pekerjaan rumah yang tidak terduga.
Atau malam hari tubuh sudah terlalu lelah untuk berpikir.

Hari yang awalnya terlihat tenang berubah menjadi penuh aktivitas kecil yang tidak kita rencanakan.

Dan sebenarnya ini bukan hal aneh.

Rumah tangga memang hidup dari ritme yang dinamis.

Ada hari yang terasa ringan.
Ada hari yang terasa padat.
Ada hari yang bahkan sulit menemukan lima menit untuk duduk tenang.

Ketika kita memaksakan sistem yang sangat stabil di tengah kehidupan yang tidak stabil, rasa gagal hampir tidak terhindarkan.

Konsistensi yang Terlalu Kaku Mudah Patah

Banyak sistem kebiasaan dibuat dengan aturan yang cukup keras.

Menulis setiap hari 30 menit. Olahraga setiap pagi. Belajar setiap malam.

Sistem seperti ini bekerja dengan baik jika kondisi hidup kita relatif stabil.

Masalahnya, kehidupan ibu sering dipenuhi gangguan kecil yang tidak bisa diprediksi.

Ketika satu hari saja terlewat, sesuatu mulai berubah di dalam pikiran kita.

Muncul rasa bersalah.

Lalu muncul pikiran lain:

“Sudah bolong. Berarti gagal.”

Akhirnya kita berhenti.

Sistem yang terlalu kaku sering patah bukan karena kita lemah, tetapi karena sistem itu tidak memberi ruang untuk realitas hidup.

Padahal dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil yang tidak terduga justru adalah bagian yang paling sering terjadi.

Jika sebuah sistem tidak mampu bertahan menghadapi gangguan kecil, maka sistem itu memang sulit bertahan lama.

Konsistensi untuk Ibu Lebih Mirip Ritme

Mungkin kita perlu melihat konsistensi dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Bukan sebagai jadwal yang kaku, tetapi sebagai ritme.

Ritme tidak selalu terjadi di waktu yang sama.
Tapi ia tetap berulang.

Daripada berpikir:

“Aku harus menulis setiap hari jam 9.”

Mungkin lebih realistis jika kita berpikir:

“Aku akan menulis ketika ada sela waktu hari ini.”

Kadang hanya sepuluh menit. Kadang hanya beberapa paragraf.
Kadang baru sempat malam hari. Ada hari yang terasa mulus. Ada yang cuma tipis-tipis saja dilakukan. Nggak papa. 

Kita tetap kembali. Keesokan harinya mencoba lagi.

Beberapa hari kemudian coba lagi. Dalam jangka panjang, ritme kecil seperti ini sering jauh lebih bertahan daripada jadwal yang terlalu sempurna.


Sistem yang Realistis Lebih Penting dari Motivasi

Banyak ibu mencoba mengandalkan motivasi.

Kita berharap semangat yang kuat bisa membuat kita konsisten.

Namun motivasi adalah sesuatu yang sangat manusiawi: ia naik dan turun.

Motivasi mudah melemah ketika kita lelah.
Ketika rumah sedang ramai.
Ketika pikiran dipenuhi banyak hal.

Di sinilah sistem menjadi lebih penting.

Sistem yang realistis biasanya sederhana.

Misalnya:

Target yang kecil.
Versi minimal dari kegiatan yang ingin dilakukan.
Aturan yang tidak menghukum ketika ada hari yang terlewat.

Contohnya bukan lagi:

“Aku harus menulis banyak.”

Tapi:

“Kalau hari ini sempat, aku menulis sedikit.”

Bukan:

“Aku harus selalu tepat.”

Tapi:

“Aku akan terus kembali, kapan pun aku bisa.”

Sistem yang seperti ini terasa lebih ramah terhadap kehidupan yang sebenarnya kita jalani.


Mungkin Kita Tidak Seburuk yang Kita Kira

Banyak ibu merasa dirinya tidak konsisten. Padahal jika dilihat lebih jujur, sering kali yang terjadi bukan berhenti sepenuhnya. 

Kita masih kembali koq. 

Masih mencoba lagi.
Masih membuka catatan.
Masih membaca.
Masih menulis, meskipun sebentar.

Mungkin tidak setiap hari.

Mungkin tidak sempurna.

Tapi tetap kembali.

Dan mungkin itulah bentuk konsistensi yang paling jujur dalam kehidupan yang penuh perubahan.

Jika selama ini kamu merasa tidak konsisten, mungkin sebenarnya kamu hanya sedang mencoba sistem yang tidak cocok dengan hidupmu.

Mungkin yang perlu diubah bukan dirimu.

Melainkan cara sistem itu bekerja.

Bukan lagi bertanya:

“Bagaimana supaya aku bisa disiplin setiap hari?”

Tetapi bertanya:

“Sistem seperti apa yang tetap bisa berjalan di tengah kehidupan rumahku?”

Karena bagi banyak ibu, konsistensi jarang terlihat seperti garis lurus.

Ia lebih sering terlihat seperti langkah kecil yang terus kembali,
meskipun jalannya berliku.

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)