curhatibu.com

Finding Your Personal Mission: Ibu, Sebenarnya Mau Memperjuangkan Apa?

 Menemukan misi hidup itu important, but not urgent. Artinya, sebenarnya kita tidak sedang dikejar waktu. Tidak harus tergesa-gesa, tidak harus hari ini juga menemukan satu kalimat yang menjelaskan misi hidup kita.

Tapi justru karena tidak terasa urgent, sering kali kita menundanya. “Nanti deh, kalau anak sudah besar.” “Nanti kalau urusan rumah sudah lebih tenang.” “Nanti kalau sudah selesai kuliah.” “Nanti kalau sudah tidak sibuk.” Sampai akhirnya kita terus menjalani hari, mengurus anak, mengurus rumah, bekerja, belajar, mengikuti berbagai kegiatan, tetapi tidak pernah benar-benar bertanya, “Sebenarnya saya ini mau ke mana?”

Padahal menemukan misi hidup itu penting. Karena ketika kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan, hidup tidak lagi sekadar berjalan dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya. Kita mulai punya arah. Kita menjadi pribadi dan keluarga yang lebih produktif dan berdampak, bukan sekadar menjalani hidup begitu saja.

Start with the End

Ada satu prinsip yang menarik: start with the end.

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh Markus Spiske: https://www.pexels.com/id-id/foto/lukisan-teks-kehidupan-tenang-konseptual-4317513/

Bahwa, memikirkan sesuatu yang besar yang ingin kita perjuangkan justru akan membuat kita mulai memperbaiki hal-hal kecil yang dibutuhkan untuk menuju ke sana. Karena manusia itu ya kalau tidak punya sesuatu yang besar untuk diperjuangkan, akan lebih mudah kehilangan fokus.

Nah, sebagai ibu, kita mungkin punya begitu banyak aktivitas setiap hari. Mengurus anak, mengurus rumah, bekerja, belajar, mengantar anak, menemani anak, mengikuti berbagai kelas, belum lagi urusan keluarga yang datang silih berganti. Semuanya terlihat penting. Tetapi pertanyaannya, semua ini sebenarnya sedang membawa kita ke mana sih?

Ingat lagi bahwa : Misi hidup adalah apa yang mau kita perjuangkan. Misi hidup tidak terkait langsung dengan apa bakat, karier maupun latar belakang pendidikan kita.

Bakat, karier, pendidikan, pekerjaan, bisnis, dan berbagai kemampuan yang kita miliki adalah tools untuk memperjuangkan misi kita. Jadi, bakat bukanlah misi hidup. Karier bukanlah misi hidup. Latar belakang pendidikan juga bukanlah misi hidup. Tetapi semuanya bisa menjadi bagian dari jalan untuk menemukan sekaligus memperjuangkan misi hidup.

Seberapa Koheren Hidup Kita?

Selanjutnya, ada pertanyaan menarik yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri, dalam perjalanan menemukan misi hidup kita, yaitu “Seberapa koheren sih hidup saya?”

Karena ternyata, koherensi kehidupan ini menentukan derajat kualitas diri dan keluarga. Coba kita lihat dari beberapa hal, dan yok kita beri penilaian tentang diri kita, terkait hal 3 ini.

Pertama, What I Believe? Apa yang sebenarnya saya yakini? Ada orang yang menjalani hidup begitu saja. Mengalir. Mengikuti apa yang ada. Ketika orang lain melakukan sesuatu, ikut. Ketika ada kesempatan, diambil. Ketika ada tren baru, diikuti. Tetapi ketika ditanya, “Sebenarnya apa yang ingin kamu perjuangkan?”, bingung. Bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena belum punya keyakinan yang jelas tentang apa yang ingin diperjuangkan. Kamu, apa yang mau kamu perjuangkan?

Kedua, Who am I? Ada juga orang yang sudah punya keyakinan. Ia tahu ada sesuatu yang ingin diperjuangkan, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Ia belum benar-benar mengukur fitrahnya, belum memahami bakatnya, belum mengetahui kompetensinya, belum melihat bagaimana kehidupan spiritualnya, kehidupan intelektualnya, kehidupan keluarganya, bagaimana dirinya bekerja, dan bagaimana dirinya belajar. Akibatnya, apa yang ingin diperjuangkan ada, tetapi dirinya belum cukup mengenal “senjata” yang ia punya untuk digunakan berjuang. Kamu, sudahkah mengenal dirimu?

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh Fábio Lucas: https://www.pexels.com/id-id/foto/cahaya-sinar-hitam-dan-putih-hitam-putih-5483990/

Ketiga, planning. Ada orang yang sudah punya keyakinan dan sudah mengenal dirinya, tetapi tidak punya perencanaan. Ia tahu mau ke mana, tahu dirinya seperti apa, tetapi tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, ada juga yang punya banyak sekali planning, tetapi kehilangan keyakinan. Akhirnya hidupnya terlihat sangat sibuk, tetapi tidak jelas sebenarnya mau ke mana. Kamu, sudah punya rencana apa?

So, kita perlu bertanya, “keluarga kita sekarang masuk level mana sih?”

Lima Level Kesiapan

Kalau disederhanakan, kita bisa melihatnya sebagai lima level.

Level 1 adalah ketika seseorang tidak punya semuanya, atau punya planning tetapi tidak punya keyakinan.

Level 2 adalah ketika keyakinannya belum kuat atau belum ajeg. Tidak tahu mau ke mana dan apa yang harus diperjuangkan, tetapi sudah mulai punya kesadaran untuk mengukur fitrah. Atau sebaliknya, punya keyakinan tetapi belum bisa mengukur dirinya sehingga planning-nya masih berantakan.

Level 3 adalah ketika seseorang sudah punya keyakinan tentang apa yang ingin diperjuangkan dan mulai bisa mengukur fitrah-fitrahnya, tetapi belum punya perencanaan yang matang. Di tahap ini, seseorang mungkin membutuhkan bantuan atau coach untuk menyusun langkah.

Level 4 adalah ketika sudah punya semuanya, tetapi planning masih belum clear.

Sementara Level 5 adalah ketika seseorang sudah siap untuk bangkit dan melakukan transformasi.

Minimal, kita ingin bergerak menuju level 3–5. Karena kalau hidup hanya mengalir tanpa tahu apa yang diyakini, siapa diri kita, dan apa yang ingin diperjuangkan, kita sangat mudah kehilangan arah. Bahkan dalam keluarga, ketidakjelasan arah ini bisa menjadi kerentanan tersendiri dalam hubungan keluarga.

Mencari Pola dalam Kehidupan

Lalu, bagaimana cara menemukan misi?

Kita membutuhkan tools untuk melacak pola. Coba lihat kembali perjalanan hidup kita.

Sebenarnya sejak dulu, kita tertarik pada bidang apa? Pendidikan? Sosial? Keluarga? Kesehatan? Ekonomi? Atau bidang lainnya?


Tapi jangan hanya melihat tentang prestasi apa yang kita raih dalam bidang2 tersebut ya. Jangan hanya melihat hal-hal yang berhasil. Lihat juga momen kesedihan, kerugian, kebangkrutan, kejatuhan, kebangkitan, kegagalan, kekecewaan, bahkan kehampaan yang pernah kita rasakan. Karena semua itu bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup yang nantinya membantu kita connecting the dots.

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh cottonbro studio: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-koneksi-keterkaitan-hubungan-7508778/

Mungkin ada pola tertentu yang selama ini tidak kita sadari. Hal yang terus muncul. Bidang yang berkali-kali kita datangi. Persoalan yang terus menarik perhatian. Orang-orang tertentu yang selalu membuat kita ingin membantu. Dari sana, perlahan mungkin terlihat “hubungan antar titik”-nya, terlihat polanya.

Kalau Misi Semakin Kuat, Spiritual Life Juga Semakin Kuat

Ada hal menarik yang perlu kita sadari. Semakin kuat misi perjuangan seseorang, maka seharusnya semakin kuat pula kehidupan spiritualnya.

Kenapa? Karena ketika kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan, kita tahu mengapa kita perlu menguatkan hubungan dengan Allah. Kita membutuhkan Allah untuk menjalankan misi tersebut.

Maka seluruh potensi yang kita punya diarahkan untuk memberikan manfaat di jalan Allah. Ketika kita benar-benar fokus di sana, Allah yang akan menguatkan kembali semuanya.

Inilah yang kemudian berkaitan dengan quality of life. Kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh seberapa nyaman kehidupan kita, tetapi juga oleh kualitas ketundukan kita kepada Allah. Dan kualitas ketundukan ini akan semakin kuat ketika kita memiliki sesuatu yang benar-benar kita perjuangkan karena Allah.

Belum Menemukan Misi? Tidak Apa-apa!

Nah, bagaimana kalau sampai sekarang kita belum menemukan misi hidup? Tidak apa-apa. Jangan malah panik. Karena menemukan misi itu memang penting, tetapi tidak urgent.

Kalau belum menemukan misi, mungkin untuk tahap awal, goal kita adalah life balance dulu. Rapikan kehidupan. Perbaiki ibadah. Selaraskan keluarga. Latih fisik. Atur pikiran. Jalin hubungan sosial. Benahi cara belajar. Sambil terus mengamati dan mengevaluasi diri.

Karena dalam perjalanan itu, ada beberapa hal yang perlu kita catat.

1. Perhatikan obstacle, yaitu apa yang biasanya menghambat kita dari dalam diri. Apa yang membuat kita berhenti, membuat semangat turun, atau membuat kita sulit konsisten? Kenali penghambat yang berasal dari dalam diri. Karena kalau kita tahu hambatannya, kita bisa mulai membuat strategi untuk menghadapinya.

2. Kemudian perhatikan juga triggers, yaitu apa yang memicu kebaikan dalam diri. Misalnya kita menyadari, “Saya lebih mudah menjadi shalih ketika berada di lingkungan orang-orang shalih.” Maka itu bisa menjadi bagian dari planning hidup. Kalau lingkungan baik membuat kita lebih baik, maka ya planningnya adalah untuk berusaha dekat dengan lingkungan yang baik. So, jangan hanya berharap diri kita kuat, tanpa usaha. Ciptakan “trigger” yang membantu kita tetap berada di jalur “semangat” kebaikan itu.

3. Selain itu, kenali juga distraksi, yaitu hal-hal dari luar yang membuat kita kehilangan arah. Misalnya jika bertemu orang yang toxic, bisa membuat semangat kita turun, atau kalau terlalu banyak menggunakan internet dan media sosial, perhatian kita bisa terdistraksi parah. Ya, kalau sudah tahu distraksinya, ya perlu dibuat batas. Bukan karena semua hal tersebut selalu buruk yaa, tetapi karena memang kita sedang berupaya menjaga fokus, dalam rangka meraih sesuatu yang besar.

Tahapan Menemukan Misi Hidup

Setelah mulai mengenali diri dan pola kehidupan, kita bisa masuk ke tahapan berikutnya.

Pertama, do the right things. Tentukan bidang apa yang ingin kita ubah dalam kehidupan. Pendidikan? Politik? Energi? Pangan? Keluarga? Sosial? Dan seterusnya. Lalu coba mulai merumuskan, “Saya dihadirkan di muka bumi untuk melakukan ….” Perhatikan bahwa pernyataannya berupa kata kerja. Karena misi berbicara tentang apa yang ingin dilakukan dan perubahan apa yang ingin diperjuangkan.

Kedua, do the things right. Setelah tahu apa yang ingin diperjuangkan, baru kita berpikir tentang caranya. Apa pekerjaan yang bisa dilakukan? Apa yang kita sukai? Apa yang kita senang sekali kerjakan? Misalnya misi kita ingin mensejahterakan lahan pertanian di desa. Jalannya bisa bermacam-macam. Bisa membuat koperasi, mengembangkan permaculture, membuat sistem pendidikan untuk para petani, atau mengembangkan bisnis yang bisa mendukung usaha petani. Pilihan jalannya akan sangat tergantung pada pengalaman, kompetensi, bakat, dan kapasitas yang kita miliki. Misi tetap satu/sama, tetapi jalan solusinya bisa banyak.

Ketiga, buat inovasi — gap dari apa yang ada dan apa yang diharapkan. Setelah memiliki misi, kita perlu terus bertanya ya, “Apa yang saya tahu?” dan “Apa yang belum saya tahu?” Di sinilah intellectual curiosity dibutuhkan. Kalau ada misi yang ingin diperjuangkan, kita tidak bisa berhenti belajar. Kita perlu terus menambah ilmu, mencari tahu, menguji, mencoba, dan mengembangkan cara baru. Karena sebenarnya ya, belajar itu bukan sekadar menjalani aktivitas tambahan dalam hidup kita. Tetapi, belajar akan menjadi bekal dalam kita memperjuangkan misi.

Keempat, bagaimana agar misi itu bisa diperjuangkan bersama keluarga. Sebagai ibu, kita justru punya kesempatan untuk mengajak keluarga berjalan bersama. Apa yang ingin diwariskan kepada anak? Nilai apa yang ingin mereka lihat dari kehidupan orang tuanya? Legacy apa yang ingin kita tinggalkan? Karena mungkin anak tidak hanya perlu mendengar tentang misi hidup. Mereka juga perlu melihat bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan dengan misi.

Kelima, community maker. Kita perlu menemukan orang-orang yang memiliki misi yang sama. Berkomunitas, terlibat dalam komunitas, atau bahkan membuat komunitas. Karena misi yang besar sering kali membutuhkan lebih dari satu orang yang memperjuangkannya. Dan ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki arah perjuangan yang sama, kita bisa saling menguatkan, memperkaya ide, dan memperluas manfaat.

Keenam, mencari solusi yang mendamaikan, membawa kepada harmony. Perjuangan bukan sekadar bergerak cepat atau sekadar mencapai target. Tetapi bagaimana misi itu bisa dijalankan dengan tetap menjaga keseimbangan berbagai sisi kehidupan, termasuk keluarga, hubungan sosial, kesehatan jiwa, dan hubungan dengan Allah.

Ketujuh, jangan lupakan kesehatan fisik. Ini sering kali kita lupakan ketika sedang mengejar sesuatu. Padahal tubuh adalah kendaraan. Kalau badan tidak sehat, banyak hal yang ingin kita perjuangkan akhirnya tidak bisa dilakukan dengan optimal. Kita ingin memperjuangkan misi besar dalm hidup, sementara menjaga diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana tuh? Maka, menjaga kesehatan fisik ini pun menjadi bagian dari mempersiapkan diri untuk menjalankan misi.

Ketika Sudah Punya Misi, Apa Berikutnya?

Misi itu seperti sebuah atom kecil. Kelihatannya kecil, tetapi sewaktu-waktu bisa “meledak-ledak”. Ada panggilan ke sana, ada kesempatan ke sini, ada orang yang membutuhkan, ada persoalan yang ingin kita selesaikan. Dan ketika panggilan itu datang, jangan abaikan. Kita perlu belajar menyambutnya. Bahkan jangan-jangan selama ini, panggilan2 itu sudah banyak datang, sayangnya, kita abaikan dan tidak kita sambut karena kita pun belum sensitif mengenali panggilan itu untuk kita.

Karena misi bukan sekadar kalimat yang kita tulis di buku catatan ya.. Misi itu harus turun menjadi real life — kehidupan yang diperjuangkan. Maka, misi ini akan diturunkan menjadi visi atau goals.

Misalnya untuk memperjuangkan Misi A, maka saya harus menyelesaikan sekian buku, mendidik atau coaching sekian orang, membangun sebuah program, membuat sebuah komunitas, atau menyelesaikan sebuah proyek. Di sinilah target mulai bisa dibuat lebih konkret dan bisa diukur dengan angka atau istilahnya, KPI.

Lalu, Bagaimana Ibu Menemukan Misi Hidupnya?

Mungkin jawabannya tidak akan langsung muncul dalam satu malam. Bisa jadi justru ditemukan setelah kita menjalani good life dengan lebih seimbang, atau ketika kita mulai memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini — kejujuran, keadilan, kebermanfaatan, pendidikan, keluarga, atau nilai lainnya.

Bisa juga ditemukan melalui suffering. Melalui penderitaan, keterpurukan, kehilangan, bahkan kehampaan jiwa. Karena seseorang bisa saja secara ekonomi sangat melimpah, tetapi tetap merasa kosong. Dan mungkin dari titik-titik itulah kita mulai bertanya,“Sebenarnya hidup saya ini untuk apa?” — nah jadi jalan bertemu misi hidup.

Nah, kalau sudah mulai muncul pertanyaan (dan kegalauan) itu, jangan buru-buru dimatikan/atau diabaikan. Dengarkan. Renungkan. Pelajari. Minta petunjuk kepada Allah. Lalu perlahan, lihat kembali seluruh perjalanan hidup kita, lihat pola yang ada tadi. Mungkin ternyata potongan-potongan kehidupan yang selama ini terasa acak sebenarnya sedang membentuk satu pola. Sedang connecting the dots.

Dan bisa jadi, di sana kita mulai menemukan, “Oh… ternyata ini yang ingin saya perjuangkan.”

Sebagai ibu, mungkin kita tidak perlu buru-buru mencari passion baru. Mungkin kita hanya perlu berhenti sebentar untuk melihat kembali kehidupan yang sedang kita jalani, lalu bertanya, Apa yang ingin saya perjuangkan melalui peran saya sebagai ibu? Siapa yang ingin saya bantu? Perubahan apa yang ingin saya lihat terjadi? Dan ilmu apa yang perlu saya pelajari untuk bisa menjalankannya?

Karena pada akhirnya, ibu selalu belajar bukan karena harus terus belajar. Ibu belajar karena ada sesuatu yang ingin diperjuangkan. Dan belajar adalah salah satu cara kita mempersiapkan diri agar mampu menjalankan perjuangan itu dengan lebih baik.

Kubu Raya, 27 Agustus 2026, pukul 05.36, Windy Anita Sari (060)

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)