curhatibu.com

Ketika Usia 40 Bukan Saatnya Berhenti, tetapi Menemukan Misi Hidup

 Minggu lalu, pembahasan Fitrah Intensive Class lebih banyak berbicara tentang bagaimana fitrah, life, dan happiness. Minggu ini, pembahasannya mulai masuk ke pertanyaan berikutnya: Bagaimana cara mencapai kehidupan yang sesuai dengan fitrah itu?

Maka ada dua pembahasan utama yang menjadi perhatian:

  1. Bagaimana menemukan misi hidup
  2. Bagaimana merancang hidup yang seimbang dan bahagia.

Dan ternyata, ketika membicarakan dua hal ini, kita tidak bisa hanya berbicara tentang pekerjaan, karier, bisnis, atau target-target kehidupan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:




Sebenarnya, untuk apa kita hidup?

The Mission of Life

Kalau kita melihat pohon, kita tau bahwa salah satu tugas pohon adalah berbuah. Lalu, bagaimana dengan tugas kita sebagai manusia? Apa sebenarnya tugas kita?

Pertanyaan sederhana, yang kalau makin dipikirin, makin dalem banget rasanya (….atau makin pusing?). Sebab boleh jadi kita selama ini terlalu sibuk menentukan apa yang ingin dicapai; sampai lupa bertanya mengapa kita harus mencapai semua itu. Betul?

Ada studi di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa usia paling produktif dalam kehidupan seseorang justru berada pada usia 60–70 tahun.

Menarik ya.

Tapi mungkinkah seseorang mencapai masa produktif tersebut jika tidak mulai mempersiapkannya sejak usia 40 tahun?

Dalam pembahasan ini, usia 40 tahun dipandang sebagai batas penting bagi seseorang untuk menemukan kebermaknaan dalam hidupnya. Setelah itu, mestinya bukan lagi masa untuk terus mencari-cari siapa dirinya, tetapi menjadi masa percepatan. Sehingga usia 40 tahun seharusnya menjadi masa ketika seseorang sudah selesai dengan dirinya.

Bukan berarti sudah selesai hidupnya. Tetapi selesai dengan ego dirinya. Tidak lagi terlalu egosentris, tetapi mulai bergerak menjadi theosentris. Orientasinya mulai bergeser. Bukan lagi hanya, “Saya mau apa?”

Tetapi mulai bertanya: “Apa yang Allah kehendaki dari saya?”

Menurut Hurlock, kematangan seseorang tercapai sampai usia kira-kira 40 tahun, yang prosesnya dimulai sejak sekitar usia 15 tahun. Selanjutnya, pada usia 40–60 tahun seseorang berada pada tahap menemukan next calling-nya. Yang menarik lagi, pada usia 40 tahun juga mulai terjadi peningkatan minat seseorang terhadap agama, religiusitas, dan spiritualisme, setelah sebelumnya minat tersebut cenderung lebih kecil.

Maka tidak mengherankan jika usia 40 tahun menjadi patokan tertentu di banyak tempat. Ada usia tertentu yang dianggap matang untuk menduduki posisi tertentu. Ada pula masyarakat yang baru mengakui prestasi seseorang ketika usianya sudah memasuki 40-an. Sukarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Bill Clinton menjadi presiden pada usia 46 tahun. Dan masih banyak contoh lainnya.

Maka, sebagaimana dalam agama, usia 40 ini memang menjadi usia yang istimewa. Bukan usia untuk pensiun. Justru bisa menjadi usia untuk mengejar next calling. Menjadikan sisa usia sebagai titik pacuan amal menuju surga.

Kegelisahan Menjelang 40 Tahun

Menariknya, kegelisahan menjelang usia 40 tahun ternyata bukan hanya dirasakan manusia pada umumnya. Bahkan para nabi pun mengalami kegelisahan dalam perjalanan hidupnya. Maka kegelisahan itu jangan buru-buru diabaikan. Bisa jadi, ada sesuatu yang sedang Allah minta kita perhatikan.

Bukan sekadar, “Kenapa saya belum sukses?” , tetapi: “Sebenarnya apa makna hidup saya?”, “Apa panggilan hidup saya?” , “Untuk apa Allah menempatkan saya di dunia ini?”

Dan dalam Islam, panggilan hidup ini tentu tidak bisa dilepaskan dari panduan syariat. Orientasinya kepada Allah. Memperjuangkan sesuatu di jalan Allah. Menjadi hamba Allah yang memberikan manfaat.

Jadi, ketika kita berbicara tentang mission of life, sebenarnya kita sedang berbicara tentang bagaimana kehidupan kita diarahkan menuju Allah.

The Productive Muslims

Lalu, apa sebenarnya produktivitas itu?

Menurut Muhammad Faris, ada beberapa tingkatan yang menarik untuk dipahami.

Focus × Energy × Time = Busy → Fokus, energi, dan waktu saja ternyata baru menghasilkan kesibukan.

Freewill × Focus × Energy × Time = Not Impactful → Ada kehendak dari dalam, ada fokus, ada energi, ada waktu, tetapi belum tentu menghasilkan sesuatu yang berdampak.

Ikhtiar × Focus × Energy × Time = Impactful → Ketika ada ikhtiar yang sungguh-sungguh, fokus, energi, dan waktu, maka ada kemungkinan muncul dampak.

Tetapi bagi seorang Muslim, ada satu unsur yang lebih tinggi lagi:

High Intention To Serve Allah × Focus × Energy × Time = Allah’s Pleasure and Impactful

Nah. Di sinilah peta jalannya menjadi menarik. Ada niat untuk serve Allah. Kemudian dilakukan dengan fokus. Dengan sepenuh energi. Menggunakan sebagian besar waktu yang kita miliki.

Maka yang dikejar bukan sekadar produktivitas.Tetapi keridhoan Allah dan kebermanfaatan bagi orang lain. Inilah yang seharusnya menjadi mission of life kita.

  • Berjuang menuju Allah.
  • Melayani Allah, dalam posisi kita sebagai hamba Allah.
  • Dan dalam proses itu, kita fokus melayani umat untuk kebaikan banyak orang.

Maka produktif bukan sekadar mengerjakan banyak hal. Produktif adalah menemukan misi hidup, lalu habis-habisan di sana. Dan kalau ingin memperbaiki kualitas hidup kita, maka perbaiki kualitas penghambaan kita kepada Allah.

Fitrah & The Happiness

Lalu bagaimana kita menemukan misi hidup itu?

Kalau ingin menemukan fitrah langit kita, sebenarnya kita perlu menggali. Karena code-nya sudah ada dalam diri kita. Misi hidup bukan sekadar karier. Bukan bisnis. Bukan pula pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari. Misi adalah sesuatu yang melingkupi berbagai sisi fitrah kita.

Tugas kita di dunia setidaknya berkaitan dengan dua hal besar:

1. Memenuhi hak-hak fitrah (khilqoh)

Ketika hak-hak fitrah ini dipenuhi dan dijalankan dengan baik, maka jiwa akan merasakan kebahagiaan. Bukan karena kita mengejar kebahagiaan itu sendiri. Tetapi karena hidup berjalan sesuai dengan fitrahnya.

2. Memperjuangkan sesuatu dalam kehidupan

Ada sesuatu yang ingin kita perjuangkan untuk membawa perubahan kebaikan bagi umat. Karena iman juga diukur dari bagaimana kita melakukan perubahan. Jadi, hidup bukan hanya tentang bagaimana kita merasa bahagia. Tetapi bagaimana keberadaan kita membawa kebaikan.

Fitrah and The Soul

Ada satu kalimat yang menarik: “Siapa yang ingin mengubah diri, maka ubahlah jiwamu.”

Dalam Quran 13:11, terdapat konsep bahwa perubahan pada suatu kaum berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka sendiri. Dalam pembahasan ini, kita diajak melihat bahwa manusia pada awalnya berada dalam keadaan yang bersih, tetapi dalam perjalanan hidupnya bisa saja merusak kebersihan tersebut.

Maka tugas kita bukan menciptakan fitrah baru. Tetapi mengembalikan diri kepada fitrahnya.

Dalam The Islamic Model of The Soul, manusia memiliki beberapa dimensi:

  • Ruh, yang menarik ke langit.
  • Qalb, yang menjadi pusat spiritual.
  • Akal, yang berkaitan dengan fungsi rasional dan sangat dipengaruhi oleh ilmu yang diterima.
  • Nafs/jasad, yang memiliki tarikan ke bawah.

Menariknya, meskipun manusia memiliki berbagai penyebutan sesuai dengan kondisi dan fungsinya, entitasnya tetap satu.

Ketika terlibat dengan intelektual, disebut intellect. Ketika mengatur raga, disebut self. Ketika terkait dengan iluminasi intuitif, disebut qalb/heart. Dan ketika kembali kepada dunianya yang abstrak, disebut ruh/spirit.

Lalu di mana posisi fitrah? Fitrah adalah internal compass. Sementara Kitabullah adalah external compass. Sehingga fitrah dan Kitabullah semestinya sesuai.

Fitrah akan menolak sesuatu yang tidak sejalan dengan Kitabullah. Fitrah pada dasarnya selalu mendorong seseorang ke arah “langit”, dalam berbagai dimensinya. Jika fitrah ditempatkan dengan benar, maka ia akan membawa jiwa ke arah yang lebih tinggi dan membawa kepada kebahagiaan.

Sebaliknya, ketika manusia terus terdorong ke “bawah”, ia bisa masuk ke kondisi ghaflah. Melalaikan fitrah. Melupakan Tuhan.

Ketika Hati Menjadi Gelap

Maksiat akan menimbulkan titik hitam dalam qalb. Jika titik hitam itu semakin banyak, cahaya dari Allah dan Kitabullah semakin sulit masuk, dan fitrah dari dalam pun semakin sulit keluar.

Tetapi bukan berarti semuanya selesai. Ketika seseorang berusaha berlepas diri dari keburukan dan berikhtiar membersihkan hatinya, kebersihan itu bisa kembali dicapai. Cahaya bisa masuk kembali. Fitrah bisa kembali keluar. Proses pembersihan ini disebut tazkiyatun nafs.

Ada hal menarik tentang bakat, bahwa dalam Islam, bakat ternyata bukan misi hidup. Bakat adalah senjata untuk mencapai misi hidup. Berbeda dengan cara pandang yang tidak memasukkan unsur spiritualitas, ketika pekerjaan atau bakat bisa saja dijadikan misi hidup itu sendiri. Dalam pandangan ini, semua bagian fitrah justru perlu diarahkan kepada yang pertama: spiritual.

Pekerjaan. Seni.Cinta.Bakat.Keluarga.Famous.Bisnis.Dan berbagai sisi kehidupan lainnya.Semuanya dibawa ke arah spiritual.Dibawa ke langit.Diarahkan untuk memperjuangkan keridhoan Allah.

Karena kehilangan unsur spiritualitas bisa membuat seseorang kehilangan arah hidup. Maka tidak mengherankan jika ada orang yang secara duniawi terlihat sukses, berkarya luar biasa, memiliki jabatan, kekayaan, dan berbagai pencapaian, tetapi akhirnya tetap merasa kosong. Bahkan ada tokoh sukses yang akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Karena ternyata keberhasilan duniawi tidak otomatis menjawab pertanyaan: “Untuk apa saya hidup?”

Dari Fitrah Menjadi Adab

Ketika setiap aspek fitrah dijalankan dengan baik, diilmui dengan baik, dan diarahkan kepada Allah, maka semuanya akan menjadi adab. Adab kepada Allah. Adab di ranah profesi. Adab sebagai pebisnis. Adab dalam keluarga. Adab dalam hubungan dengan orang lain.

Karena setiap perbuatan yang dilakukan akhirnya diarahkan pada sesuatu yang diridhoi oleh Al-Khaliq. Dan di situlah akhlaq terbentuk.

Maka secara sederhana:

Fitrah adalah innately predisposed to know God (ma’rifatullah), to do good (akhlaq), dan to accept true knowledge (ilmu–Kitabullah).

Lalu bagaimana semua ini dijalankan? Melalui proses jihadun nafs dan tazkiyatun nafs.

Kita Tidak Mengejar Kebahagiaan

Tahapan tazkiyatun nafs inilah yang kemudian menjadi salah satu framework dari Fitrah Based Life. Orang yang ingin bijak pada usia 60–70 tahun, paling tidak sejak usia 40 tahun sudah mulai bergeser dari orientasi yang terlalu duniawi. Orientasinya berubah. Bukan lagi: “Apa yang bisa saya dapatkan?”, Tetapi: “Bagaimana saya bisa menolong agama Allah?”

Di sini kita juga menemukan satu pemahaman yang menarik: Kita mencapai kebahagiaan, bukan mengejar kebahagiaan. Kebahagiaan hadir ketika jiwa menjadi tenang. Dan jiwa yang tenang tidak muncul begitu saja. Jiwa perlu diperbaiki. Ketika jiwa membaik, maka banyak hal lain ikut membaik.

Dan untuk memperbaiki jiwa, ada proses jihadun nafs dan tazkiyatun nafs yang harus dilalui. Mereka yang mudah terdistraksi dalam hidupnya, merasa tidak terarah, bisa jadi karena belum clear dengan makna terdalam dari hidup yang dijalaninya. Belum jelas why-nya. Belum memiliki high intention, niat, dan himmah yang kuat.

Ketika fitrah dirawat dengan baik dan seluruh sisinya diarahkan kepada Allah, kita akan lebih terjaga dari akhlaq muhlikat/tercela, nafsu al-ammarah bis-suu’, dan kelalaian terhadap dunia.

Setiap Peristiwa Punya Makna

Lalu bagaimana ketika hidup tidak berjalan sesuai yang kita inginkan?

Ketika ada kesulitan? Bisa jadi, justru itu cara Allah membuat kita ingat. Membuat kita semakin dekat kepada Allah. Maka setiap peristiwa selalu memiliki makna. Tujuan sudah jelas. Titik tumpu sudah jelas. Petunjuk sudah jelas. Maka setiap titik atau peristiwa yang kita alami hanyalah pergantian peristiwa yang harus dijalani.

Ada sulit. Ada mudah. Semuanya perlu dilalui. Jalan mendaki lagi sukar. Tetapi terus berkarya untuk semakin meninggikan nama Allah. Kita menolong agama Allah untuk menunjukkan derajat kesungguhan kita kepada Allah dalam perjalanan menuju-Nya.

Maka: Hidup adalah tentang KONTRIBUSI. Kontribusi menuju Allah. Dan untuk menunjukkan pada Allah bahwa kita sudah memberikan ikhtiar terbaik untuk itu.

The Mission of Life

Lalu sebenarnya apa bedanya visi dan misi? Mana yang harus ditentukan lebih dulu?

Mission — Why. Mission adalah tugas. Tugas penting yang diberikan kepada seseorang atau kelompok. Tugas yang membuat seseorang dikirim untuk melakukan sesuatu. Pekerjaan yang orang yakini memang menjadi tugasnya.

Maka mission menjawab:

  • Kenapa kita hadir?
  • Kenapa kita harus ada?

Dan misi ini tidak seharusnya berubah-ubah. Misi itu pendek. Satu kalimat. Tetapi harus spesifik. Dan misi biasanya menggunakan kata kerja.


Sementara: Vision — What

Vision adalah apa yang nampak. Apa yang ingin kita capai. Kita ingin menjadi seperti apa. Ada visi besar dan ada visi kecil.

Visi kecil bisa berupa: Pengen kaya. Pengen banyak uang. Pengen punya rumah gedongan.

Semua itu boleh saja menjadi bagian dari kehidupan. Tetapi tidak boleh menjadi sesuatu yang lebih dahulu ditentukan daripada mission hidup.

Berbeda jika visinya besar. Misalnya ingin membangun pesantren. Maka itu bisa menjadi visi yang diturunkan dari misi yang lebih besar.

Lalu: Strategy — How

Strategi adalah bagaimana kita mencapainya. Kalau ingin membangun pesantren, misalnya strateginya adalah menguatkan bisnis, membuka donasi, membangun jaringan, dan berbagai langkah lain yang diperlukan.

Jadi sederhananya:

Misi: Mengapa Allah hadirkan saya di dunia ini?
Strategi: Bagaimana saya mencapainya?
Visi: Apa yang ingin saya capai?

Temukan Misi, Bukan Sekadar Pekerjaan

Lalu bagaimana cara menemukan misi hidup?

Salah satu caranya adalah melihat bidang apa yang terus “memanggil-manggil” kita. Siapa yang ingin kita bantu? Bidang apa yang membuat kita merasa ada sesuatu yang perlu diperjuangkan?

Misalnya bidang pendidikan. Para ibu. Home education.

Maka salah satu contoh misi bisa berbunyi: “Mengembalikan kesejatian pendidikan dalam keluarga di tangan ibu (home education) sesuai dengan fitrahnya.”

Bakat, relasi, pengalaman, kemampuan, dan berbagai hal lain tetap perlu dirawat. Tetapi semuanya menjadi alat untuk membantu kita mewujudkan misi.

Karena ada dua kunci yang perlu dipegang :

  • Doing the right things — misi.
  • Doing the things right — cara sukses.

Dan ternyata, ada empat kondisi yang bisa terjadi.

1. Tidak tahu mau ke mana dan tidak tahu caranya

Ini adalah kondisi failure. Karena arah tidak jelas, cara pun tidak jelas.

2. Tahu mau ke mana, tetapi tidak tahu caranya

Ini bisa menyebabkan lost opportunity. Seperti kita tahu ingin pergi ke Bandung dari Semarang, tetapi tidak tahu cara yang tepat. Akhirnya memilih jalan kaki. Mungkin sampai. Tetapi berapa banyak waktu dan kesempatan yang hilang?

3. Tahu berbagai cara, tetapi tidak tahu arah

Ini yang menarik. Seseorang bisa sangat hebat dalam manajemen. Hebat dalam strategi. Hebat dalam bekerja. Hebat dalam menghasilkan uang. Hebat dalam mencapai jabatan. Tetapi kalau tidak tahu sebenarnya mau ke mana, semua itu bisa menjadi wasted effort. Bisa saja sukses secara duniawi. Tetapi akhirnya bertanya: “Sebenarnya saya hidup untuk apa?”

4. Tahu arah dan tahu caranya

Inilah yang disebut effective success. Punya strong mission. Dan tahu bagaimana cara bergerak menuju ke sana.

Maka yang paling utama sebenarnya adalah punya WHY terlebih dahulu. Cara mencapai tujuan bisa dipelajari. Strategi bisa diperbaiki. Kemampuan bisa di-upgrade. Tetapi kalau arah hidupnya saja tidak jelas, kita bisa sangat sibuk berjalan tanpa pernah tahu apakah kita sedang menuju tempat yang benar.

Jangan Mulai dari Visi

Kebanyakan kita memulai hidup dari visi.

Keluarga tahun ini mau mencapai apa? Anak harus bisa apa? Saya mau punya apa? Bisnis mau sampai mana? Karier mau seperti apa?

Padahal ada sesuatu yang lebih penting di atas semua itu: Misi.

Urutannya kurang lebih begini :

  • Purpose hidup kita sudah ditentukan Allah, yaitu beribadah kepada Allah.
  • Lalu kita perlu menemukan alasan kehadiran kita di dunia ini. Kita semua memiliki tugas sebagai khalifah di muka bumi, tetapi kita perlu menemukan: untuk siapa dan pada bidang spesifik apa kita ditugaskan?
  • Setelah itu, baru diturunkan menjadi goals atau capaian masa depan yang ingin dicapai — visi.
  • Setelah itu, kita menentukan value atau nilai yang harus ada dalam diri agar misi tersebut bisa tercapai.
  • Baru kemudian menentukan strategi.
  • Lalu berlanjut kepada proyek dan aksi untuk mencapai tujuan tertentu.

Jadi jangan buru-buru bertanya: “Saya mau mencapai apa?”

Mungkin pertanyaan pertama yang lebih penting adalah: “Saya ini sebenarnya dihadirkan untuk melakukan apa?”

Timeline Kehidupan yang Sering Terbalik

Kalau dilihat dari timeline kehidupan, ternyata ada banyak hal yang seharusnya mendapatkan perhatian pada usia tertentu.

Masa anak-anak usia dini seharusnya menjadi masa menumbuhkan fitrah dan merawat kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Jangan malah sibuk dan fokus mengajarkan calistung.

Masa anak-anak sampai usia 10 tahun seharusnya menjadi masa untuk nge-bolang, melatih patuh dengan kesadaran, bertemu para ulama, dan duduk di majelis ilmu. Bukan malah sibuk menyiapkan anak masuk SMP.

Masa usia 11–15 tahun seharusnya menjadi masa persiapan menuju baligh. Bukan malah seluruh energi habis untuk persiapan masuk kuliah.

Masa 15–40 tahun seharusnya menjadi proses menemukan makna hidup, misi hidup, dan panggilan hidup. Tetapi sering kali justru dipersempit menjadi: Bagaimana kuliah? Bagaimana mendapatkan pekerjaan?

Kemudian usia 40–50, 50–60 tahun yang seharusnya menjadi titik pacuan amal menuju surga, malah digunakan untuk mempersiapkan masa pensiun. Seolah-olah tujuan hidup adalah berhenti bekerja. Padahal bisa jadi, justru setelah usia 40 tahun, seseorang sedang memasuki fase penting untuk menjalankan next calling-nya. Ada tujuan yang lebih tinggi. Ada hal-hal yang lebih besar. Selain sekadar urusan duniawi yang kita kejar.

Intinya:

  • Jaga fitrah.
  • Gunakan panduan Kitabullah.
  • Arahkan tujuan kepada Allah.

Maka insyaAllah, kita akan hidup dalam kebahagiaan yang lebih hakiki.

Jangan Sampai Pedang Megah Hanya Dipakai Memotong Tempe

Ada satu analogi yang menarik. Bayangkan kita disuruh ibu pergi ke pasar. Tugasnya sederhana: Beli mangga. Lalu kita pergi ke pasar. Kita membeli berbagai macam buah-buahan segar dan enak. Apel. Jeruk. Anggur. Semangka. Melon. Semua dibeli. Kecuali mangga (padahal tersedia di toko). Ketika pulang, kita bilang: “Bu, lihat. Saya sudah membawa banyak buah.”

Iya. Kita memang sudah berbuat banyak. Tetapi tugas utamanya tidak dikerjakan. Padahal kalau kita hanya membeli mangga — tanpa melakukan berbagai hal tambahan lainnya — tugas utama sudah selesai.

Begitu pula hidup. Seseorang bisa mengerjakan banyak hal. Bisa produktif. Bisa berkarya. Bisa punya banyak pencapaian. Tetapi kalau belum menjalankan misi hidupnya, bisa jadi ia sebenarnya sedang sibuk melakukan banyak hal yang bukan tugas utamanya. Seperti menggunakan pedang megah hanya untuk memotong tempe yang mau digoreng.

Hehe. Tidak perlu belati megah. Pisau dapur pun bisa, kan?

Kemampuan dan kapasitas spesial yang dimiliki seseorang, yang semestinya bisa digunakan untuk menjalankan misi hidup, akhirnya hanya dipakai untuk melakukan hal-hal remeh di dunia.

Maka, kenalilah misi hidupmu! Supaya benar-benar tahu mengapa KAMU hidup di dunia ini.

Lalu, Apa Misi Hidup Saya?

Pertanyaan ini akhirnya menjadi sangat personal. Setelah semua pembahasan tentang fitrah, jiwa, misi, visi, dan kontribusi, saya pun sampai pada pertanyaan: Apakah misi hidup saya?

Dan jawaban yang bisa jadi ditemukan adalah: Membantu ibu menemukan kembali fitrah keibuannya — dalam menjadi ibu rumah tangga, mendidik anak, menjalankan perannya dalam pengasuhan, dan bagaimana ibu kembali percaya diri dalam mengasuh anaknya — sehingga anak-anak mendapatkan pengasuhan terbaik dari ibunya dan generasi menjadi lebih baik.

Menariknya, “suatu bidang kehidupan” ini tidak harus berubah. Yang ada adalah perluasan. Mungkin bentuknya berubah. Orangnya bertambah. Cakupannya meluas. Tetapi bidang yang terus memanggil itu tetap ada (dan sama). Dan mungkin justru di situlah kita bisa mulai membaca code-code fitrah yang sudah ada dalam diri kita.

Good Life: Personal dan Sosial

Lalu bagaimana agar misi tersebut benar-benar menjadi good life?

Ada dua dimensi yang perlu dijalani.

1. Dimensi Personal

Outcome-nya adalah: Good deeds / right adab, good character, dan sound judgment. Instrumennya adalah: Sabar, syukur, tawakal, ikhlas, memberikan manfaat, dan tidak berbuat kerusakan.

Dan ada satu hal yang penting: Untuk bisa memberikan manfaat, maka semestinya kita terlebih dahulu membersihkan diri dari hal-hal yang buruk — termasuk dosa-dosa yang tersembunyi. Karena bagaimana kita mau membawa kebaikan keluar jika di dalam diri sendiri masih banyak yang perlu dibersihkan?

2. Dimensi Sosial

Di dimensi sosial, outcome-nya adalah bagaimana berbagai hal yang kita kerjakan tetap Allah-oriented. Semata karena Allah. Adab. Moral. Berbasis Islam dan tauhid. Termasuk bagaimana kita membangun true companionship — bagaimana kita memperlakukan orang lain. Apakah hati kita selalu berburuk sangka? Apakah kita mudah merendahkan? Apakah kita bisa memperlakukan orang lain dengan baik?

Instrumennya adalah zuhud. Menerima berbagai kondisi yang dialami, tetapi tidak pernah kehilangan hakikat dirinya sebagai hamba Allah, dalam keadaan apa pun. Karena sumbu orang beriman adalah Allah. Keimanan menjadi pusatnya. Mau hidup berputar seperti apa pun, sumbunya tetap kembali kepada Allah.

Dua Tameng yang Perlu Dijaga

Dalam tugas individu, ada dua shield atau tameng yang perlu dijaga. Tameng pertama yang menjaga sumbu keimanan adalah intelektual dan true knowledge. Tujuannya menuju rasa yakin dan kepastian, sehingga keraguan bisa dihilangkan. Allah mengilhamkan cahaya ilmu ke dalam hati. Karena itu, hati perlu terus dibersihkan agar cahaya tersebut siap masuk. Maka, kita harus terus berpikir dan belajar.

  • Hilangkan ketidaktahuan kita atas sesuatu yang memang penting untuk diketahui.
  • Jangan sampai kita lalai hanya karena tidak mau belajar.
  • Selain itu, kita juga perlu menguasai bahasa dan kemampuan untuk mengekspresikan ide, karena ilmu yang ada dalam diri juga perlu disampaikan.
  • Kita perlu mampu mengomunikasikan gagasan kepada orang lain dengan baik.

Tameng kedua adalah tubuh. Tubuh adalah kendaraan yang kita gunakan untuk melakukan sesuatu di dunia. Maka tubuh juga perlu dijaga. Jaga dari perbuatan yang tidak Allah sukai. Jaga dari makanan yang haram dan merugikan. Karena ketika badan terjaga, banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Skill bisa di-upgrade, minat dan passion bisa dijalani dengan baik, kita bisa menunjukkan ketidaksukaan maupun kesukaan atas sesuatu, dan ibadah pun bisa dikerjakan dengan lebih baik.

Dalam dimensi sosial, shield pertama adalah keluarga. Keluarga menjadi tempat regenerasi, tempat bertumbuh, sekaligus menjadi perantara antara kehidupan individu dan sosial. Sementara shield kedua adalah adab-oriented tadbir, yaitu bagaimana kita menata dan mengelola urusan kehidupan. Di dalamnya ada kepemimpinan, planning, management, development, dan action. Semua itu bukan sekadar kemampuan mengelola sesuatu, tetapi bagaimana setiap aksi yang dilakukan tetap memiliki basis Allah. Menempatkan sesuatu pada tempatnya, melakukan sesuatu dengan cara yang benar, dan memastikan bahwa kemampuan yang kita miliki digunakan untuk menjalankan misi, bukan sekadar memperbanyak kesibukan.

Lalu, apa sebenarnya hakikat hidup yang punya misi?

Pada akhirnya, kembali lagi kepada pertanyaan paling awal: Mengapa Allah menciptakan saya di sini, saat ini, bersama orang-orang yang ada di sekitar saya saat ini?

Untuk menjawabnya, kita perlu mengenali diri. Mengetahui kehidupan apa yang sudah Allah tetapkan kepada kita. Mengakui dan merasakan kondisi diri kita. Membaca apa yang Allah berikan. Membaca fitrah. Membaca kemampuan. Membaca kegelisahan. Membaca orang-orang yang terus memanggil kita untuk dibantu. Dan dari sana, perlahan kita bisa menemukan, “Oh… mungkin ini alasan saya Allah hadirkan di dunia ini..”

Karena ternyata hidup bukan sekadar tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Bukan sekadar berapa banyak uang, jabatan, rumah, prestasi, atau seberapa terkenal kita. Bahkan bukan sekadar seberapa sibuk kita. Tetapi tentang : Apakah semua yang kita lakukan membawa kita semakin dekat kepada Allah? Dan apakah keberadaan kita memberikan kontribusi bagi kehidupan?

Maka pada akhirnya, hidup adalah tentang kontribusi. Kontribusi menuju Allah. Dan menunjukkan kepada Allah bahwa kita sudah memberikan ikhtiar terbaik yang kita punya. Mungkin itulah kenapa menemukan misi hidup menjadi begitu penting. Karena ketika why-nya sudah jelas, kita tidak lagi mudah bingung dengan berbagai what dan how yang datang silih berganti. Kita tahu ke mana harus berjalan. Kita tahu untuk apa kita berjalan.

Dan ketika jalan yang dilalui ternyata mendaki dan sukar, kita tahu bahwa kesulitan itu bukan berarti kita salah arah. Bisa jadi, justru di situlah Allah sedang mengajarkan kita untuk terus berjalan. Terus berkarya. Terus memberikan manfaat. Terus memperbaiki jiwa. Terus mendekat kepada-Nya. Sampai akhirnya kita tidak lagi sekadar menjalani hidup, tetapi benar-benar menjalankan misi hidup yang Allah titipkan kepada kita

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)