Ada satu hal yang belakangan ini semakin saya sadari dalam perjalanan homeschooling.

Ketika kita berbicara tentang homeschooling, biasanya yang banyak dibicarakan adalah anak.
Tentang bagaimana anak belajar.
Tentang kegiatan apa yang bisa dilakukan bersama anak.
Tentang kurikulum yang digunakan.
Tentang metode belajar yang cocok.
Tentang bagaimana membuat anak tetap antusias.
Tentang jadwal, rutinitas, proyek, buku, dan berbagai aktivitas lainnya.
Semuanya tentu penting. Tetapi di balik semua itu, ada satu sosok yang sering kali tidak terlalu banyak dibicarakan.
Ibunya.
Ibu yang setiap hari membersamai.
Ibu yang menyusun banyak hal di kepala.
Ibu yang memikirkan kebutuhan anak, rumah, keluarga, dan dirinya sendiri — meskipun bagian terakhir ini sering kali justru diletakkan paling belakang.
Dan karena itulah, saya ingin memperkenalkan sebuah ruang baru:
Curhat Ibu Homeschooling
Channel ini mungkin sedikit berbeda dari channel homeschooling yang selama ini kamu temui.
Di sini, kamu tidak akan menemukan daftar kegiatan homeschooling, worksheet untuk anak, atau berbagai model jadwal homeschooling yang harus diikuti.
Bukan karena hal-hal tersebut tidak penting yaa.. tetapi karena ruang ini memang dibuat untuk sesuatu yang berbeda.
Ruang ini bukan tentang anak-anak kita yang menjalani homeschooling. Ruang ini tentang kita. Tentang ibunya. Tentang ibu yang menjadi pelaku utama dalam perjalanan homeschooling di keluarganya masing-masing.
Karena di Balik Setiap Perjalanan Anak, Ada Ibu yang Juga Terus Berjalan Membersamai
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan perjalanan anak sampai lupa bahwa kita sendiri juga sedang menjalani sebuah perjalanan.
Anak sedang bertumbuh. Tetapi kita juga bertumbuh. Anak sedang belajar. Tetapi kita juga belajar. Anak sedang berproses mengenali dirinya. Dan sering kali, kita pun sedang berproses mengenali diri kita sendiri.
Hanya saja, proses yang kita jalani sebagai ibu sering kali tidak terlihat. Tidak ada worksheet-nya. Tidak ada checklist yang bisa kita centang. Tidak ada jadwal yang dengan jelas menunjukkan bahwa hari ini kita sudah berhasil menjadi ibu yang sabar. Bahkan kadang, tidak ada yang tahu bahwa hari itu kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegakkk di hadapan anak, hhehe..
Pastinya ada hari ketika homeschooling terasa menyenangkan. Ketika kita bisa menikmati waktu bersama anak. Membaca buku bersama, mengobrol, mengerjakan sesuatu, pergi ke suatu tempat, atau sekadar menjalani hari dengan ritme yang terasa pas.
Tetapi ada juga hari ketika semuanya terasa berat. Saat anak enggan belajar. Rutinitas terasa membosankan. Rumah berantakan. Pekerjaan lain belum selesai-selesai. Trus badan lelah, pikiran numpuk-numpuk.
Dan entah bagaimana, di tengah semua itu kita masih merasa bahwa seharusnya kita bisa melakukan lebih banyak. Seharusnya kita bisa lebih sabar. Seharusnya kita bisa lebih kreatif. Seharusnya kita bisa membuat homeschooling lebih menyenangkan. Seharusnya anak mendapatkan lebih banyak pengalaman. Seharusnya kita tidak boleh merasa bosan.
Seharusnya kita… hehe.. Dan daftar “seharusnya” itu bisa terus bertambah.
Sampai akhirnya, perjalanan yang sebenarnya ingin kita jalani dengan bahagia justru terasa semakin berat karena terlalu banyak ekspektasi yang kita bawa sendiri.
Ada Hari-Hari Ketika Kita Hanya Butuh Didengarkan
Menjadi ibu homeschooling terkadang terasa seperti menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan.
Kita adalah ibu. Tetapi di saat yang sama, kita juga menjadi teman belajar anak, teman bermain, pengatur ritme keluarga, pengelola rumah, dan entah berapa banyak peran lainnya.
Ada begitu banyak keputusan kecil yang harus dibuat setiap hari. Hari ini anak belajar apa? Apakah perlu mengikuti jadwal? Kalau anak sedang tidak mau belajar, bagaimana? Apakah kegiatan yang kita lakukan sudah cukup? Apakah kita terlalu santai? Apakah kita terlalu banyak menuntut? Apakah anak baik-baik saja? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin tidak selalu kita ucapkan. Tetapi sering kali berputar di kepala. Dan ketika terlalu lama disimpan sendiri, semuanya bisa terasa melelahkan. Padahal mungkin, pada saat-saat tertentu, kita tidak sedang membutuhkan solusi.
Kita hanya membutuhkan seseorang yang mendengarkan. Seseorang yang tidak buru-buru menghakimi. Seseorang yang tidak langsung mengatakan apa yang seharusnya kita lakukan. Seseorang yang mungkin hanya berkata,
“Aku juga pernah merasakan itu.”
Atau bahkan, “Kamu nggak sendiri.”
Sesederhana itu. Kalimat sederhana seperti itulah yang rasanya bisa membuat hati sedikit lebih lega.
Homeschooling Tidak Selalu Harus Terlihat Menyenangkan
Ada satu hal yang mungkin perlu kita izinkan untuk ada dalam perjalanan homeschooling: rasa bosan dan lelah.
Bosan dengan rutinitas. Lelah dengan aktivitas yang sama. Jenuh karena setiap hari terasa seperti pengulangan. Kesal karena rencana yang sudah dibuat ternyata tidak berjalan. Merasa ingin punya waktu sendiri. Merasa ingin berhenti sejenak.
Semua itu bukanlah berarti kita tidak mencintai anak. Bukan berarti kita salah memilih homeschooling. Dan bukan berarti kita adalah ibu yang buruk. Yes… Kita hanya manusia. Manusia yang bisa lelah meskipun sangat mencintai apa yang sedang dijalaninya. Sebab mencintai sebuah perjalanan bukan berarti kita harus menikmati setiap harinya.
Ada hari-hari yang menyenangkan. Ada hari-hari yang biasa saja. Ada juga hari-hari yang ingin cepat-cepat kita lewati. Dan yaaa gakpapa, biasaa aja.
Homeschooling pun tidak harus selalu terlihat indah. Tidak harus selalu penuh kegiatan. Tidak harus selalu ada dokumentasi yang menarik untuk dipamerkan (eh). Tidak harus setiap hari menghasilkan sesuatu hasil di kertas, yang bisa kita banggakan.
Kadang, hari yang sederhana pun tetap bagian dari perjalanan. Hari ketika anak hanya membaca buku. Hari ketika kita hanya mengobrol. Hari ketika rencana belajar berubah menjadi bermain. Hari ketika kita tidak melakukan banyak hal. Hari ketika kita hanya berusaha melewati hari dengan baik.
Itu semua tetap bagian dari homeschooling.
Kita Juga Punya Ekspektasi terhadap Diri Sendiri
Menariknya, kadang ekspektasi terbesar justru bukan datang dari orang lain. Tetapi dari diri kita sendiri. Kita melihat keluarga lain.
Melihat bagaimana mereka menjalani homeschooling. Melihat aktivitas anak-anak mereka. Melihat dokumentasi perjalanan mereka. Melihat rumah yang tampak rapi. Melihat ibu yang terlihat begitu sabar dan kreatif.
Lalu tanpa sadar kita membandingkan.
“Kenapa aku tidak bisa seperti itu?”
Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan orang lain. Kita tidak melihat hari ketika mereka juga kelelahan. Kita tidak melihat rumah mereka ketika sedang berantakan. Kita tidak melihat ketika mereka bingung mengambil keputusan. Kita tidak tahu berapa kali mereka mempertanyakan pilihan mereka sendiri.
Kita hanya melihat apa yang terlihat. Dan kemudian menggunakan sesuatu yang terlihat itu untuk mengukur diri sendiri — membandingkannya dengan momen-momen tidak terlihat dalam keseharian homeschooling kita — yang dirasa parah sekali, hehe.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sebentar. Bukan untuk berhenti homeschoolingnya…Tetapi untuk berhenti sejenak dari semua standar yang kita ciptakan sendiri.
Mengambil napas. Melihat kembali perjalanan kita, dan renungkan,
“Sebenarnya, apa yang sedang kami butuhkan sebagai keluarga?”
Bukan apa yang dilakukan keluarga lain, kan? Bukan apa yang sedang tren, kan? Bukan apa yang terlihat paling ideal, kan?
Tetapi apa yang memang sesuai dengan keluarga kita.
Karena Ibu Juga Perlu Ruang untuk Menjadi Dirinya Sendiri
Sering kali dalam perjalanan menjadi ibu, kita terbiasa menempatkan diri sebagai orang yang harus selalu siap.
Siap ketika anak membutuhkan. Siap ketika rumah membutuhkan. Siap ketika keluarga membutuhkan. Sampai akhirnya kita lupa bahwa kita juga punya kebutuhan.
Kita juga bisa ingin didengarkan. Kita juga bisa ingin bercerita. Kita juga bisa ingin mengeluh sebentar tanpa harus merasa bersalah.
Kita juga boleh bilang, “Hari ini aku capek.”
Tanpa harus langsung merasa dijudge (atau me-judge diri sendiri) bahwa kita kurang bersyukur. Kita boleh berkata, “Aku sedang bosan.” , tanpa harus merasa bahwa kita tidak mencintai anak-anak kita.
Kita boleh mengakui, “Aku tidak tahu harus bagaimana.”, tanpa merasa bahwa sebagai ibu homeschooling kita seharusnya selalu punya jawaban.
Karena menjadi ibu homeschooling itu bukan berarti selalu tahu. Menjadi ibu bukan berarti selalu kuat. Dan menjadi ibu homeschooling bukan berarti kita harus selalu mampu menjalani semuanya dengan sempurna.
Kita sedang belajar. Dan mungkin, salah satu bagian terpenting dari perjalanan ini adalah belajar menerima bahwa diri kita pun memiliki batas.
Justru Ibu yang Banyak Bertumbuh
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan homeschooling.
Awalnya mungkin kita berpikir bahwa kita sedang memilih sebuah cara pendidikan untuk anak. Kita ingin memberikan ruang belajar yang lebih sesuai. Kita ingin membersamai mereka lebih dekat. Kita ingin mengenal anak lebih dalam.
Tetapi semakin lama menjalaninya, kita mungkin menyadari bahwa ternyata bukan hanya anak yang berubah.
Kita juga berubah.
Kita belajar sabar. Bukan sabar yang sekadar teori, tetapi sabar yang benar-benar diuji oleh situasi sehari-hari. Kita belajar menerima. Menerima bahwa setiap anak punya ritmenya sendiri. Menerima bahwa tidak semua rencana harus berjalan sesuai harapan. Menerima bahwa hari ini bisa berbeda dengan kemarin.
Kita belajar mengenali diri sendiri. Mengenali apa yang membuat kita lelah. Mengenali apa yang membuat kita bahagia. Mengenali kapan kita perlu melambat. Mengenali kapan kita perlu meminta bantuan.
Dan perlahan kita belajar bahwa menjadi ibu dalam perjalanan homeschooling bukan tentang menjadi ibu yang sempurna.
Tetapi tentang menjadi ibu yang terus belajar dan bertumbuh bersama anak-anaknya.
Mungkin justru itulah salah satu hadiah terbesar dari perjalanan ini. Anak-anak bertumbuh di depan mata kita. Dan tanpa kita sadari, kita pun bertumbuh bersama mereka.
Tidak Semua Cerita Harus Besar untuk Bisa Berarti
Karena itulah, saya ingin Curhat Ibu Homeschooling menjadi sebuah ruang untuk cerita-cerita kecil.
Cerita yang mungkin menurut kita tidak istimewa. Cerita tentang hari yang melelahkan. Tentang anak yang hari itu tiba-tiba menemukan sesuatu yang membuatnya antusias. Tentang ibu yang akhirnya berhasil memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Tentang rutinitas yang ternyata perlu diubah. Tentang ekspektasi yang akhirnya kita lepaskan. Tentang rasa bersalah yang sedang kita pelajari untuk berdamai dengannya.
Tentang kebingungan. Tentang kebahagiaan. Tentang kejenuhan.
Tentang hal-hal yang mungkin sulit dibicarakan di tempat lain.
Sebab bisa jadi, cerita yang menurut kita sederhana ternyata adalah cerita yang sedang dibutuhkan ibu lain.
Mungkin ada seorang ibu yang sedang merasa gagal, lalu membaca cerita kita dan menyadari bahwa ternyata ia tidak sendirian. Mungkin ada ibu yang sedang kelelahan dan akhirnya merasa,
“Oh, ternyata wajar kalau aku merasa seperti ini.”
Mungkin ada ibu yang sedang mempertanyakan pilihannya dan menemukan bahwa ternyata ibu lain pun pernah berada di titik yang sama.
Dan mungkin, dari cerita-cerita sederhana itulah kita bisa saling menguatkan. Bukan dengan nasihat yang panjang. Bukan dengan mengatakan bahwa semuanya harus selalu positif.
Tetapi cukup agar ditenangkan dengan 1 kalimat pendek, “Ya, aku mengerti apa yang kamu rasakan.”
Sebuah Ruang untuk Kita
Jadi, Curhat Ibu Homeschooling bukanlah ruang untuk mencari siapa yang paling baik menjalani homeschooling. Bukan tempat untuk membandingkan siapa yang anaknya paling aktif. Bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling banyak melakukan kegiatan. Bukan pula tempat untuk mencari standar baru tentang seperti apa seharusnya seorang ibu homeschooling.
Justru sebaliknya. Saya berharap ruang ini bisa menjadi tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura.
Tempat di mana kita boleh datang dengan cerita yang sederhana. Dengan hari yang berantakan. Dengan pertanyaan yang belum punya jawaban. Dengan rasa lelah yang belum selesai. Dengan kebahagiaan kecil yang ingin dibagikan. Dengan refleksi yang mungkin baru kita sadari setelah sekian lama menjalani perjalanan ini.
Karena pada akhirnya, homeschooling bukan hanya tentang pendidikan anak. Ada relasi yang sedang dibangun. Ada keluarga yang sedang belajar menemukan ritmenya. Ada anak yang sedang bertumbuh. Dan ada ibu yang, mungkin tanpa disadari, sedang menemukan dirinya kembali.
Kita tidak harus menjalani perjalanan ini sendirian.
Kita bisa saling bercerita.
Saling mendengarkan.
Saling menemukan bahwa ternyata ada banyak rasa yang kita alami bersama.
Dan mungkin, dari sanalah perjalanan ini terasa sedikit lebih ringan.
Mari Bergabung
Kalau kamu juga sedang menjalani perjalanan homeschooling bersama anak-anakmu, ruang ini mungkin untukmu. Mari duduk sebentar di ruang yang sama.
Berbagi cerita. Berbagi rasa. Berbagi pengalaman. Tentang hari-hari yang menyenangkan. Tentang hari-hari yang melelahkan. Tentang hal-hal kecil yang membuat kita tertawa. Tentang hal-hal yang membuat kita berpikir ulang. Tentang proses menjadi ibu. Tentang proses menjadi diri sendiri.
Tentang perjalanan homeschooling yang ternyata bukan hanya membuat anak-anak kita bertumbuh, tetapi juga membuat kita belajar banyak hal tentang kehidupan.
Karena mungkin, cerita yang menurut kita sederhana ternyata adalah cerita yang sedang dibutuhkan ibu lain. Cerita yang membuatnya merasa dipahami.
Cerita yang membuatnya merasa ditemani. Cerita yang membuatnya bisa berkata, “Ternyata aku nggak sendirian.”
Jadi, kalau kamu juga sedang menjalani perjalanan ini, yuk bergabung.
Mari kita buat ruang kecil ini menjadi tempat untuk saling berbagi cerita, rasa, dan pengalaman sebagai ibu homeschooling.
Curhat Ibu Homeschooling.
Karena di balik perjalanan anak-anak kita,
ada kita yang juga sedang belajar untuk bertumbuh. ❤️
Join Telegram Channel Curhat Ibu Homeschooling:
.png)
.png)
Post a Comment