curhatibu.com

Finding Your Mission: Sebenarnya, Untuk Apa Saya Belajar?

 Ada satu pertanyaan yang belakangan ini mungkin perlu lebih sering ditanyakan oleh seorang ibu, a.k.a saya hehe.. tentang “Sebenarnya saya belajar ini untuk apa?”

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh https://kaboompics.com/: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-laptop-kantor-ruang-kantor-4959749/

Sebenarnya bukan karena belajar itu tidak penting, tetapi justru sebaliknya — karena merasa belajar itu penting. Tapi.. buat apa?

Well. Kita mungkin sedang berada di fase hidup ketika belajar menjadi bagian dari keseharian. Ikut kelas parenting. Membaca buku tentang segala macem : homeschooling, belajar psikologi, belajar agama. Kuliah lagi. Mengikuti berbagai pelatihan. Belajar menulis. Belajar bisnis. Belajar berbagai keterampilan baru.

Satu kelas selesai, ikut kelas lain. Satu buku selesai, membeli buku berikutnya. Sampai suatu ketika muncul pertanyaan begini,

“Saya ini sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Jadi, memang iya, kita belajar. Tapi kita selama ini rupanya terlalu banyak belajar, tanpa tahu untuk apa semua “materi pelajaran” itu akan digunakan.

Di sinilah pembahasan tentang Finding Your Mission menjadi menarik. Terutama bagi seorang ibu (yang suka belajar)

Ibuk Belajar Bukan Karena Harus Terus Belajar

Sebagai Ibuk yang suka Belajar, belajar tentu menjadi sesuatu yang penting (dan menyenangkan). Tetapi saya tidak ingin belajar dimaknai sebagai kewajiban untuk terus menambah pengetahuan. Tetapi.. Ibuk belajar karena ada misi yang ingin ditunaikan. Dan belajar adalah salah satu cara mempersiapkan diri untuk menjalankan misi itu.

Jadi, sebatas learning for learning saja, bisa jadi hanya sekedar selesai pada pemenuhan ego. Yang ingin kita tuju adalah learning for A mission. Belajar untuk mendukung misi. Belajar supaya kita punya bekal untuk melakukan sesuatu yang memang ingin kita perjuangkan.

Karena kalau misi sudah jelas, kita jadi lebih mudah menentukan: ilmu apa yang perlu dipelajari, keterampilan apa yang perlu dikuasai, pengalaman apa yang perlu dicari, bahkan kelas mana yang sebenarnya perlu diikuti dan mana yang tidak perlu.

Tapi, Apa Sebenarnya Mission of Life Itu?

Dalam materi Finding Your Mission pada seri #3 Kuliah FBL dan FBE Intensive, misi hidup tidak diarahkan sebagai sekadar pekerjaan, karier, atau bisnis.

Misi hidup adalah titik kesadaran atau titik kembali untuk menemukan kepastian tugas dalam menyeru kebenaran, menolong agama Allah, menyelamatkan umat, atau melakukan perubahan yang Allah ridhai dalam suatu bidang kehidupan → garis bawahi ini : DALAM SUATU BIDANG KEHIDUPAN — spesifik, jelas, khusus.

Jadi, misi bukan sekadar: “Saya mau jadi apa?”

Tetapi lebih kepada:

  • “Perubahan apa yang ingin saya perjuangkan?”
  • “Dalam bidang kehidupan apa saya ingin memberikan kontribusi?”
  • “Siapa yang ingin saya bantu?”

Dan semuanya tetap diarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi: menjalankan tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi dan beribadah kepada-Nya.

Ini yang membuat misi berbeda dengan karier. Karier bisa berubah. Pekerjaan bisa berganti. Bisnis bisa naik turun. Tetapi misi bisa tetap hidup di balik berbagai peran tersebut.

Jadi, Ibu yang Belajar Parenting (Misalnya), Itu Sedang Menuju Apa, Buat Apa?

Yes… Coba bayangkan seorang ibu yang selama ini belajar banyak tentang parenting. Ia membaca buku. Ikut kelas. Mendengarkan podcast. Belajar tentang perkembangan anak. Belajar tentang homeschooling. Belajar tentang pendidikan berbasis fitrah. Semua itu tentu baik.

Tetapi kemudian coba tanyakan: “Setelah semua ilmu ini saya dapatkan, lalu saya ingin melakukan apa?”

Apakah hanya supaya merasa lebih tahu? Atau ada sesuatu yang lebih besar? Misalnya, ia menemukan bahwa ada keresahan yang terus memanggil-manggil dirinya, berbagai pertanyaan tentang :

  • Kenapa banyak ibu merasa tidak percaya diri dalam mendidik anaknya sendiri?
  • Kenapa banyak ibu merasa bahwa pendidikan anak harus selalu diserahkan kepada sekolah?
  • Kenapa banyak ibu kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri setelah menjadi ibu?

Nah, kalau kegelisahan semacam ini terus muncul, mungkin ada sesuatu yang perlu digali lebih dalam. Bisa jadi bukan sekadar ketertarikan. Bisa jadi ada inner voice yang sedang memanggil.

Dalam sesi#3 ini, salah satu karakteristik misi yang perlu kita ingat adalah

  1. memang terasa “memanggil-manggil”.
  2. Ia juga berorientasi ke langit,
  3. melahirkan ketenangan dan keberanian ketika dijalankan,
  4. memberikan manfaat dan menebar rahmat,
  5. serta spesifik pada suatu bidang perjuangan.

Maka, ketika memang ada sesuatu yang sudah disukai, terasa memanggil-manggil, jangan buru-buru menyebutnya passion, apalagi misi hidup.

Gali lebih dalam. Apa yang sebenarnya ingin kita perjuangkan?

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh Tara Winstead: https://www.pexels.com/id-id/foto/hitam-dan-putih-hitam-putih-hitam-putih-hitam-putih-7666421/

Sebab Menemukan Misi Bukan Dimulai dari Passion

Ini bagian yang menurut saya penting untuk ibu-ibu yang sedang berada di usia 30–40 tahun. Mencari misi hidup bukan berarti: “Saya harus menemukan passion saya dulu.”

Bukan pula tentang : “Saya paling jago apa?” Atau: “Profesi apa yang paling cocok dengan saya?”

Karena misi tidak diawali dari bakat, profesi, atau bisnis tertentu. Bahkan ketika seseorang belum menemukan misinya, ia tetap bisa menjalani profesinya sekarang sambil terus memperdalam kompetensi dan merenungkan apa yang sebenarnya “memanggil” dirinya.


Jadi, kalau sekarang seorang ibu masih bekerja, tetaplah bekerja. Kalau sekarang sedang mengurus rumah, jalani perannya dengan baik. Kalau sekarang sedang membangun bisnis, lanjutkan. Kalau sekarang sedang belajar, teruslah belajar. Tidak perlu juga buru-buru meninggalkan semuanya hanya karena merasa belum menemukan mission of life.

Bisa jadi, justru melalui kehidupan yang sedang dijalani sekarang, kita perlahan menemukan benang merahnya. Karena misi itu bukan tentang melarikan diri dari kehidupan sekarang. Tetapi mengkristalkan apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan dari kehidupan yang sedang kita jalani.

Lalu, Mulainya dari Mana?

Menemukan misi hidup tidak dimulai hanya dengan bertanya kepada diri sendiri. Namun ada tiga hal yang menjadi kaidah awal.

Pertama, meminta kepada Allah. Karena sebagaimana hidayah, misi hidup juga merupakan hadiah yang perlu kita minta dan kita gapai.

Kedua, meminta petunjuk agar Kitabullah yang memandu penemuan misi kita. Artinya, kita tidak menjadikan keinginan diri sebagai satu-satunya kompas. Ada panduan dari Allah yang perlu menjadi arah.

Ketiga, menggali dari kadar fitrah kita sebagai bentuk ikhtiar untuk menemukan misi hidup. Jadi ada proses meminta. Ada proses dipandu. Dan ada proses menggali. Bukan sekadar duduk dan bertanya: “Passion saya apa, ya?” Hehe.. ada proses panjangnya

So, Coba Lihat Lagi Kehidupanmu, Ibuk!

Kalau ingin mulai menggali, mungkin kita bisa jangan dulu melihat berbagai tes kepribadian, daftar passion, atau pertanyaan tentang profesi impian. Lihat saja kehidupan kita.

  1. Situasi apa yang paling sering membuat hati kita terusik?

2. Hal apa yang membuat kita merasa, “Ini harus dibenahi”?

3. Siapa yang secara alami membuat kita ingin membantu?

4. Masalah apa yang rasanya terus memanggil kita untuk ikut menyelesaikannya?

5. Bidang apa yang ketika dibicarakan membuat kita tidak bosan?

6. Perubahan apa yang ingin kita lihat terjadi?

Hmm.. Memang sih, bukan berarti setiap keresahan otomatis adalah misi. Tetapi dari berbagai pengalaman hidup, mungkin ada pola yang mulai terlihat. Ada hal yang berulang. Ada bidang yang terus kita datangi kembali. Ada persoalan yang terus menarik perhatian. Ada orang-orang yang terus ingin kita bantu (pada bidang yang sama). Nah, di sanalah mungkin kita bisa mulai membaca sesuatu.

Misi Itu Melampaui Diri Sendiri

Ada hal lain yang menarik dari materi ini. Misi bukan hanya tentang diri kita atau keluarga kita. Misi itu sesuatu yang lebih besar.

So, ketika kita sudah berbicara tentang sesuatu yang besar di luar diri, justru hal itu menjadikan kita akan terdorong memperbaiki diri dari dalam. Sosial life dibenahi. Family life diperbaiki. Kompetensi diperkuat. Karakter baik dilatih. Karena kita ingin menjadi orang yang mampu menjalankan misi tersebut.

Jadi, mungkin justru di sinilah seorang ibu jangan dulu bertanya: “Saya bisa dapat apa dari belajar hal ini?”, tetapi

Mulailah bertanya: “Dengan ilmu ini, saya bisa memberikan apa ya?”

Karena ketika belajar mulai diarahkan kepada kontribusi, rasanya menjadi berbeda. Kita tidak lagi belajar hanya supaya punya sertifikat. Tidak sekadar supaya bisa bilang pernah ikut kelas. Tidak sekadar supaya merasa lebih pintar. Tetapi karena ada sesuatu yang ingin kita kerjakan setelahnya.

Ketika Ibu Punya Misi, Belajarnya Jadi Lebih Terarah

Misalnya seorang ibu menemukan bahwa ia ingin memperjuangkan pendidikan anak dalam keluarga. Maka ia mungkin perlu belajar banyak hal. Tentang perkembangan anak. Tentang pendidikan. Tentang fitrah. Tentang komunikasi. Tentang pengasuhan. Tentang bagaimana membangun lingkungan belajar di rumah. Mungkin juga perlu belajar menulis, berbicara, membuat komunitas, atau membangun sebuah gerakan.

Semua ilmu itu menjadi kepingan-kepingan yang mendukung satu arah.

Misi-lah yang menentukan apa yang perlu dipelajari. Bukan sebaliknya.

Bukan setiap kali ada kelas baru lalu merasa: “Wah, saya harus ikut nih.”

Tetapi, justru kita harus bertanya, “Apakah ilmu ini memang saya butuhkan untuk menjalankan misi saya?”

Kalau iya, mendukung! → pelajari. Kalau belum? Mungkin bisa skip dulu. Karena waktu, energi, dan perhatian ibu juga terbatas. Dan sayang sekali jika semuanya habis untuk belajar hal-hal yang sebenarnya tidak pernah digunakan untuk menjalankan sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Misi Bukan Berarti Harus Langsung Besar

Kadang kita takut mencari misi karena merasa misi hidup harus sesuatu yang besar sekali. Harus punya organisasi lah. Harus punya bisnis lah. Harus punya ribuan pengikut lah. Harus nulis buku lah. Harus punya gerakan atau yayasan lah.

Padahal kan, tidak harus begitu.

Yang penting adalah ada suatu bidang kehidupan yang ingin diperjuangkan, dan perjuangan itu bermanfaat serta diarahkan kepada Allah.

Dan.. btw.. yang menarik, misi juga tidak mengenal pensiun. Ia bersifat abadi. Bahkan ketika bentuk pekerjaan berubah, misi bisa tetap dijalankan dalam bentuk yang berbeda.

Maka seorang ibu tidak perlu menunggu anak-anak besar. Tidak perlu menunggu punya banyak waktu. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Bisa jadi, misi itu justru mulai dijalankan dari ruang yang paling dekat dengan kita hari ini. Dari rumah. Dari anak-anak. Dari ilmu yang sedang dipelajari. Dari ibu-ibu yang kita temui. Dari satu tulisan. Dari satu percakapan. Dari satu perubahan kecil.

Jadi, Untuk Apa Ibuk Belajar?

Mungkin pertanyaan ini akhirnya tidak lagi:

“Saya harus belajar apa?” Tetapi, “Saya sedang memperjuangkan apa?”

Karena ketika misi mulai ditemukan, belajar mendapatkan tempatnya. Kita belajar bukan karena takut tertinggal. Bukan karena merasa menjadi ibu harus selalu upgrade. Bukan karena merasa diri kita kurang. Tetapi karena ada sesuatu yang ingin kita tunaikan. Ada perubahan yang ingin kita perjuangkan. Ada orang-orang yang ingin kita bantu. Dan ada amanah yang ingin kita jalankan dengan sebaik-baiknya.

Dalam materi di sesi#3 Finding Your Mission ini, saya betul-betul disadarkan bahwa manfaat misi hidup salah satunya adalah menjadi peta jalan menuju Allah, membuat kita lebih fokus menjalani kehidupan, menyatukan amal shalih, menjadi pacuan amal menjelang finish, dan menjadi bagian dari perjalanan menuju khusnul khatimah.

Maka mungkin, semangat seorang ibu untuk belajar itu bukan untuk menjadi ibu yang paling banyak tahu. Bukan juga tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya kelas dan buku. Tetapi tentang menjadi ibu yang tahu untuk apa ia belajar.

Sebab ketika why-nya sudah mulai jelas, kita bisa lebih tenang memilih apa yang perlu dipelajari. Kita bisa belajar lebih fokus. Kita bisa menggunakan ilmu dengan lebih bermakna. Dan perlahan, apa yang kita pelajari tidak berhenti menjadi pengetahuan di kepala.

Ia bergerak pun akan menjadi amal. Menjadi kontribusi. Menghasilkan perubahan. Dan semoga, menjadi bagian dari jalan kita menunaikan misi yang Allah titipkan.

Windy Anita Sari (060) — IG : @ibukbelajar

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)