curhatibu.com

Seberapa Penting Mengingat Nikmat-Nya?

 Ada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa jika kita menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya. Saking banyaknya nikmat itu. Tapi kenapa ya, sering kali kita merasa diri paling menderita, paling sengsara, paling tidak beruntung dibandingkan orang lain?

Press enter or click to view image in full size

Oh… mungkin memang karena selama ini kita terlalu asyik melihat apa yang tidak ada, ketimbang mensyukuri apa yang sudah ada.

Memangnya apa saja yang sudah Allah berikan kepada kita?

Coba ingat saja rezeki yang Allah berikan pada diri kita. Misalnya, fisik yang sempurna. Sempurna dalam artian mata bisa melihat dengan jelas, telinga sanggup mendengar bunyi-bunyian merdu di alam, hidung dapat menghirup aroma masakan yang lezat, tangan dapat digunakan untuk beraktivitas dan beribadah, serta kaki dapat melangkah dengan tegap ke berbagai arah.

Pikiran yang Allah “normalkan” pun patut disyukuri. Tidak ada masalah berarti. IQ yang kata orang, ya… okelah. Masih mampu menerima pelajaran di sekolah, tidak terlalu tertinggal dari yang lain, bahkan bisa catch up hingga masuk ke perguruan tinggi yang banyak diimpikan orang.

Emosi juga, hmm… Masyaallah ya. Allah selalu mempertemukan dengan banyak buku, perkuliahan, dan materi kajian yang membantu menenangkan diri sekaligus menguatkan kapasitas regulasi emosi. Setidaknya, dari hari ke hari, rasanya semakin mampu mengendalikan diri.

Urusan spiritual pun harus menjadi highlight yang layak disyukuri. Sebab kita memiliki agama terbaik, satu-satunya agama yang diridai oleh Allah. Kita juga tidak tumbuh sebagai sosok yang ateis, tidak bertuhan, atau na’udzubillah menyembah patung bahkan setan. Kita percaya sepenuhnya kepada keesaan Allah. Ya, meskipun keimanan naik turun, tetapi kita yakin bahwa semua yang ada di dunia ini memiliki Pemilik, yaitu Allah.

Setelah melihat diri sendiri, mari melihat keluarga.

Wah, sejak kecil kami hidup di keluarga yang sederhana, tetapi berkecukupan. Bisa dikatakan status sosial keluarga cukup baik. Sebab, kami berasal dari keluarga PNS. Tau lah ya, bagaimana PNS dipandang oleh orang tua pada zaman 90-an. Dianggap berkecukupan, sehingga tidak jarang ada orang yang datang meminjam uang. Alhamdulillah, Allah selalu melapangkan hati kedua orang tua kami untuk membantu mereka.

Lingkungan tempat tinggal pun aman dan nyaman. Kami bisa shalat berjamaah di masjid. Alhamdulillah.

Urusan pendidikan juga demikian. Sejak kecil, orang tua mendatangkan guru mengaji ke rumah beberapa kali dalam seminggu. Kami juga berkesempatan bergabung menjadi relawan masjid, mengikuti Rohis saat SMP, SMA, hingga di bangku kuliah. Berkesempatan bertemu dengan orang-orang baik, sekaligus menimba banyak ilmu dan hikmah dari mereka.

Guru-guru kami adalah orang-orang baik. Mereka sudah seperti ibu dan bapak ideologis bagi kami. Menampung keresahan kami, lalu membantu menyusun masa depan kami.

Sahabat juga menjadi bagian yang tidak pernah terlewat untuk disyukuri. Sejak kecil kami memiliki teman-teman yang tinggal di sekitar rumah. Bersama mereka kami bermain, jalan pagi, mengobrol, bertukar cerita, kesan, dan pengalaman hidup.

Sampai kuliah pun masih ada teman-teman yang tetap menjaga komunikasi. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, hingga kampus. Mereka mungkin tidak selalu ada, tetapi sesekali berbincang dengan mereka selalu membuat hati terasa sejuk.

Urusan pekerjaan, hmm… memang saya hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi suami mendapat pekerjaan yang sangat layak, dengan pendapatan yang lebih dari cukup untuk kami menjalani kehidupan di Pulau Kalimantan ini. Masih bisa menabung, beribadah umrah, insyaallah suatu saat berhaji, dan tentu saja sesekali jalan-jalan, hehe. Itu semua adalah nikmat yang sangat patut disyukuri.

Mertua kami juga orang-orang baik. Mereka senantiasa menjaga shalat lima waktu di masjid. Meskipun usia sudah di atas 70 tahun, fisiknya masih sanggup diajak jalan pagi, bersepeda keliling kota, hingga travelling bersama teman-teman seangkatan ke berbagai kota.

Adik ipar juga sudah memiliki penghasilan sendiri, sudah mandiri, tumbuh menjadi orang yang peduli terhadap keluarganya, dan selalu berusaha menjaga dirinya. Begitu pula mbak dan keluarganya di kampung halaman. Meskipun hanya bertemu satu atau dua kali dalam setahun, keberadaan mereka selalu menginspirasi kami di sini.

Kalau melihat perjalanan hidup selama ini, boleh saya katakan, alhamdulillah Allah selalu memudahkan. Berbagai rencana satu per satu Allah kabulkan. Kalaupun belum sesuai keinginan, Allah pasti menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagi kami. Hal ini benar-benar menggembirakan.

Meskipun demikian, ada hal-hal yang tetap harus diperhatikan. Dengan segala nikmat yang Allah berikan, rasanya tidak elok jika tidak diikuti dengan upaya memperbaiki diri.

Misalnya dalam urusan ibadah.

Ibadah wajib rasanya masih jauh dari sempurna. Masih banyak kekhusyukan yang terlewat. Ibadah sunnah pun belum menjadi prioritas. Hanya sesekali dilakukan, itu pun kalau ada temannya.

Ilmu agama juga masih sangat jauh dari kata paham. Terlalu banyak ilmu yang masih harus dipelajari. Dan memang demikianlah seharusnya, kan? Ilmu itu begitu luas. Tidak akan pernah selesai untuk dicari.

Kondisi hati juga perlu diperhatikan. Masih banyak keluhan atas perkara-perkara sederhana, perkara remeh, yang sebenarnya tidak perlu menyita perhatian. Syukur masih sebatas lisan yang mengucap alhamdulillah, belum benar-benar terwujud dalam bentuk ibadah dan penghambaan yang layak.


Harapan pun masih sering digantungkan kepada manusia. Lupa bahwa sandaran terbaik hanyalah kepada Yang Maha Kuat.

Ya… prasangka kepada Allah terkadang juga goyah. Merasa apa yang terjadi hanyalah keburukan, padahal setiap kejadian pasti penuh hikmah.

Begitu juga terhadap agama ini. Kadang merasa agama terlalu banyak mengatur. Padahal, kalau tanpa agama, mau seberantakan apa hidup ini?

Selama ini sebenarnya sibuk ngapain sih?

Katanya sibuk belajar. Tapi belajar apa?

Belajar urusan dunia saja, yang sering kali membuat lupa pada hakikat penciptaan.

Belajar untuk menyelesaikan target dari instansi pendidikan, yaitu kuliah, tetapi lupa apa sebenarnya niat menuntut ilmu.

Belajar menjadi ibu, katanya. Tapi jangan-jangan hanya demi mendapat predikat “si paling parenting.”

Sayang sekali, bukan?

Lalu bagaimana dengan semua kesibukan selama ini?

Rasanya masih jauh dari kata berkah. Memang sih, sibuk ini, sibuk itu. Dari bangun sampai tidur rasanya selalu ada daftar pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tapi… seberapa besar manfaat dari semua yang dilakukan itu?

Jangan-jangan hanya sibuk menyelesaikan checklist, tanpa pernah merenungkan, “Sebenarnya saya ini sedang ngapain? Dan untuk apa semua ini dilakukan?”

Prasangka terhadap sesama muslim pun kadang lebih condong kepada keburukan. Mungkin hati memang terlalu kotor ya, sehingga yang muncul justru su’uzan. Padahal mereka adalah saudara sesama muslim yang semestinya memiliki hak atas kasih sayang dari saudaranya.

Betul, kan?

Termasuk kepada para ulama dan orang-orang saleh. Begitu mudahnya melabeli ulama tertentu dengan sebutan, “Tidak sesuai sunnah… tidak sesuai petunjuk Nabi… tidak diajarkan Nabi…”

Padahal siapa kita?

Hehe… hanya berbekal materi kajian yang didatangi seminggu sekali — itu pun tidak selalu rutin — lalu merasa berhak menilai ulama.

Ya Allah…

Jadi, apa yang harus menjadi perbaikan saat ini?

Bersihkan hati.

Terus belajar.

Perbaiki diri.

Semoga prasangka semakin baik, hati semakin bersih, dan Allah terus membimbing langkah kita menuju diri yang lebih baik.

Aamiin.


Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)