curhatibu.com

Sebuah Pembuka : “Fitrah, Life and Happiness”

 “Allah tidak memanggil mereka yang mampu, Allah akan memampukan mereka yang terpanggil”

Sebuah konsep yang perlu dipahami sebagai seorang hamba Allah, dalam menjalankan peran di kehidupan. Sebab Allah sudah memberikan potensi berupa fitrah yang akan memampukan seorang hamba menjalankan perannya di muka bumi ini.

Sebuah pembuka atas pemahaman akan kaitan antara fitrah, life dan happiness bagi seorang hamba Allah.

Press enter or click to view image in full size

Fitrah ini bukan ditanamkan, tapi dia sudah berupa benih yang telah tertanam dalam diri. Tugas kita sebenarnya adalah menumbuhkannya, menjaganya, menyuburkannya hingga dia menjadi pohon yang subur dan berbuah lebat.

Pertanyaannya, sudahkah kita mengenal fitrah itu? Sudahkah kita menggali dan mendekatkan kehidupan itu kepada fitrah yang telah Allah install dalam diri kita?

Harus disadari, banyak kegalauan dialami manusia, bukan karena mereka tidak berhasil atau sukses di kehidupan, tapi karena kehidupannya tidak berjalan sebagaimana fitrah mereka. Banyak orang tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka hidup di dunia ini.

Mereka tidak tahu “WHY”-nya.. Mereka juga tidak memiliki kompas sebagai petunjuk jalan, dan tidak punya peta jalan sebagai misi kehidupan. Ketiga hal ini harus dipersiapkan, dan diketahui oleh setiap insan dalam perjalanan kehidupannya.

Sehingga seorang jadi bahagia. Hm.. Memangnya, apa definisi bahagia? Kenapa kita harus bahagia? Apa syarat bahagia?

Ada 3 hal yang membuat seseorang bahagia :

  • saat orientasi hidupnya hanya pada Allah — sebagai goalnya
  • saat hidupnya diupayakan selaras dengan fitrah — sebagai benih yang ditumbuhkannya
  • saat hidupnya sesuai dengan kitabullah — sebagai petunjuknya

Maka, dia akan bahagia. Kegalauan yang dirasakan, yes normal, terutama pada usia 30–40-an tahun. Justru itu menjadi pertanda jiwa kita mulai haus mencari peran sejatinya. Maka yang perlu dilakukan adalah bersihkan jiwa melalui proses tazkiyatun nafs, agar dia makin jernih, dan terbukalah pemahaman akan peran sejatinya di dunia. Kata orang, finding your mission..biar enggak galau-galau lagi.

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh Ann H: https://www.pexels.com/id-id/foto/kayu-teks-surat-huruf-11022648/

Karena benih kebahagiaan itu sudah terinstall dalam bentuk fitrah, sbenarnya hanya perlu digali, ditumbuhkan. Tapi, memangnya sudah tau, bentuknya seperti apa sih fitrah itu?

  • fitrah mengenal Allah : to know God —caranya gali bagaimana diri ini semakin mengenal Tuhannya
  • fitrah untuk melakukan perbuatan baik (berakhlaq) : to do good — senantiasalah berbuat kebaikan dalam hidup ini
  • fitrah untuk berilmu : to accept the truth — kejar melalui knowledge dan ilmu sejati dari kitabullah

ketiga hal ini jugalah yang harus jadi pegangan kita meski dinamika hidup begitu dahsyat berubah.

Ya. hidup pasti mengalami perubahan, dinamikanya. Mulai dari bagaimana bumi berubah, waktu berlalu begitu cepatnya, pendidikan tak lagi sama, perubahan sosial masyarakat yang begitu dinamisnya.

Namun ada 3 hal itu tidak boleh diubah (harus jadi pegangan selamanya) :

  • pastikan bahwa Allah adalah tujuan kita — Allah, Tuhanku (theocentris)
  • pastikan kita senantiasa hidup selaras dengan fitrah — human nature
  • pastikan selalu berada dalam bimbingan wahyu — kitabullah

Ketiga ini harus stabil — ga boleh berubah, sekalipun dihadapkan pada kondisi yang begitu dinamis.


Contoh dalam kehidupan gimana ya : Rasullullah, misalnya, memberikan 4 kriteria kebahagiaan seorang hamba, yaitu pasangan sholih/sholihah, tetangga yang baik, kendaraan cepat, dan rumah yang luas.

Dua list bertama adalah sesuatu yang harus STABIL — mutlak adanya. Hidup tidak akan bahagia kalau kedua hal ini ada yang tidak didapatkan. Namun, list 3–4 adalah sesuatu yang sifatnya dinamis — menyesuaikan situasi dan kebutuhan kita.

Inilah…ada hal hal yang harus kita pegang dalam menjalani hidup, ada yang dinamis saja sesuai kebutuhan. bedakan hal itu.

Selanjutnya, karena life is journey, hidup kita ini perjalanan yang panjang, dimana perjalanan ini dimulai dari 1 titik tolak kita saat ini, memiliki titik tuju masing-masing..maka kita harus sadari bahwa titik tolak kita, mungkin berbeda. Tapi, titik tuju kita harus sama kepada Allah.

Namun, sebenarnya, titik tolak kita pun sejatinya sama, yaitu Allah memberikan kita fitrah, potensi diri, bakat, sense, indra, dan sebagainya untuk berjalan menunaikan perjalanan kehidupan ini.

Jadi ini relate sekali dengan potongan paragraf di awal, yaitu bukan karena kita mampu, lalu Allah panggil; melainkan karena kita berupaya memantaskan diri, berupaya menyambut panggilan itu, maka Allah mampukan kita — sebab sebenarnya, dalam diri sudah terinstal aneka fitrah itu. Tinggal diri ini mau enggak menyambutnya.

Contoh : seorang ibu, berupaya meyambut fitrah keibuannya, maka ALlah akan mampukan. Mampukan dengan apa? Dengan fitrah yang sudah ada dalam ibu. Tinggal digali aja, “dibangkitkan kembali”. Sebab saat ini ada banyak fitrah keibuan dan keayahbundaan yang tertutup karena derasnya kesibukan masing-masingnya. Jadi, yuk jawab panggilan fitrah itu. Maka Allah akan memampukan kita untuk menjalankan peran kita.

Dari titik tumpu, kita memiliki titik tuju. Dalam perjalanannya, kita butuh peta jalan — agar tidak tersesat dalam mencapai tujuan. Dalam perjalananya, kita pun butuh petunjuk jalan yang memantu memberi tau jika ada lubang atau tanjakan. Termasuk, petunjuk bagaimana cara baca peta. Hehe..

Ini selaras dengan hidup. Kita punya titik tumpu, dan titik tuju. Tapi kita pun harus punya peta jalan. Peta jalan itu adalah mission of life.. tentang mau ke mana saja, tentang mau apa saja yang dilakukan. Dan dalam menjalani perjalanan itu, butuh petunjuk, agar apa yang kita lakukan tidak melanggar syariah — itulah kitabullah. Meskipun jangan lupa, tetap ada pembatas yang transparan, yaitu ajal, yang bisa sewaktu-waktu memutus perjalanan.

So, inilah topik kedua : Fitrah Based Life — menemukan misi hidup, menemukan peta perjalanan itu.

Ada yang berbeda terkait konsep perubahan, yang dipahami barat dengan yang dipahami oleh Islam. Perubahan, menurut mereka, ya sesuatu yang pasti terjadi — yang penting berubah, dan hidup itu pasti akan mengalami perubahan. Sementara dalam Islam, perubahan ini memang sesuatu yang bakal terjadi — namun, sudah Allah tentukan akhir perjalanan (menuju Allah), dan berangkat dari titik tolak sama (benih berupa fitrah) serta mendapatkan panduan petunjuk jalan — yaitu kitabullah.

Tugas kita adalah bagaimana perubahan yang kita alami dalam hidup selalu dalam kerangka perubahan ini. Ada tujuan kepada Allah, ada fitrah yang dijaga, dan ada petunjuk dan peta perjalannya. Begitu pulalah dalam menjalankan peran pendidikan nanti.

Hingga akhirnya, proses akan membawa seseorang melingkar mekar. Bedanya, kalau kita tumbuh sesuai benih, maka kita melingkar mekar sesuai benih, mengikuti petunjuk dan peta jalannya — sehingga kita akan bertemu dengan the good life. Sementara, kita akan melingkar mekar tidak sesuai benih jika lalai dari asal mulanya, orientasi hawa nafsu bekala — sehingga urusan akan dibuat berantakan oleh Allah, the Bad Life.

Mau yang mana, good life, apa bad life?

Tapi coba deh, kalau ditanya tentang ke depan ya.. “Misi hidupmu apa sih emangnya?” Kira-kira jawabnya apa?

Saya ingin beribadah. Ada yang jawab gitu? Hehe.. itu ternyata bukan misi hidup, itu adalah purpose of life. Ibaratnya, ini default. Defaultnya purpose of lifenya manusia di dunia ini ya untuk beribadah. Ga bisa diganti-ganti. Ini tentang maunya Allah itu gimana kita ada di dunia ini, gitu. Kalau kita ngikut maunya Allah — ibadah, maka kita akan bahagia. Tapi kalau kita ngikut maunya sendiri — hawa nafsu, maka kita akan berantakan hidupnya.

Press enter or click to view image in full size
https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-ditegakkan-dalam-doa-di-dalam-ruangan-di-karpet-33277936/

Nah, dalam rangka mewujudkan ibadah itu, seseorang punya namanya misson of Life, perannya. Sebagai apa? Sebagai khalifah. Tugas manusia itu mewakili Allah menjalankan peran Allah di muka bumi ini. Di sinilah ada mission, meaning. Bahwa setiap kita punya “panggilan” dari langit, yang akan kita perjuangkan seumur hidup — bahkan kalau dibangkitkan lagi, akan mau menjalaninya lagi. Maka setiap kita harus mengambil peran khalifahnya itu — entah sebagai rahmat bagi semesta, pembawa kabar gembira, maupun sebagai umat yang merajut perdamaian. Tapi intinya : find your mission.

Dari mission ini barulah lahir vission of life — atau is what you aspire to. Ibaratnya, misi lebih penting daripada visi. Visi ini yang bakal nampak saja. Sementara misi adalah makna atas peran yang mau kita ambil di dunia ini.

So, inilah sebenarnya perjalanan manusia, berawal dari sebuah purpose — yaitu ibadah. Manusia diberikan fitrah dan sumber daya untuk menjalankan tugasnya. Ada tahapan dan latihan dari Allah dengan proses bertahap hingga manusia menemukan dan menjalankan perannya. Ada ujian akan keterbatasn hingga kelimpahan, dan dihadapkan dengan keberhasilan — untuk menggali maksud Allah dan mengembalikan pada Allah, serta kegagalan — untuk disikapi dengan kesabaran. Dalam proses ini, manusia bisa lupa dan tersesat — sehingga saling menasihati adalah keharusan, bukan saling komplain. Dan ujian sesungguhnya adalah ketika dihadapkan pada pilihan atas misi dan ambisi/obsesi dalam perjalanannya.

Pilihan ini akan terkait dengan intention kita dalam menjalani hidup. Apakah untuk beroleh ridho Allah? Apakah untuk mendapat surga? Ataukah untuk sebuah mission of life? Ataukah untuk menjalani kehidupan yang balance? Jangan-jangan sekedar karena honor, reputasi dan fame. Atau sekedar urusan financial, worldly gain dan sejenisnya.

Krisis yang ada di barat saat ini adalah karena tidak ada good life, dan no misson of life. Dan adanya kesesatan pada ilmu yang diajarkan di sana. Sehingga manusia tidak merasakan kebahagiaan.

Sementara, yang seharusnya kita tanam dalam jiwa adalah bahwa bahagia itu… jika tunduk pada Allah, selaras fitrah, mendengar suara jiwa untuk memenuhi maksud/tugas penciptaan. Bahagia datang jika kita merasakan kepastian tentang kebenaran tertinggi, dam kesadaran atas fitrah. Dan inilah yang membawa kita pada kebahagiaan.

Kubu Raya, 03 Agustus 2026

Windy Anita Sari

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)