Kadang saya suka berpikir… Apakah sebenarnya anak itu perlu diajari untuk suka belajar? Atau jangan-jangan, sejak awal mereka memang sudah lahir sebagai pembelajar?
Karena kalau diamati lagi, rasanya menarik ya.

Anak yang baru lahir saja sebenarnya sudah menunjukkan begitu banyak tanda bahwa dia ingin belajar.
Belajar mengenali wajah. Belajar memahami suara. Belajar menggerakkan tubuh. Belajar memahami bagaimana dunia bekerja.
Dan semuanya dilakukan tanpa disuruh.
Tanpa jadwal. Tanpa target. Tanpa worksheet. dan pastinya TANPA UJIAN dan RAPORT hehe
Seolah-olah memang ada dorongan alami dalam dirinya untuk terus bertumbuh.
Kalau dipikir lagi…
Bukankah bayi tidak pernah kita ajari untuk penasaran?
Tapi dia akan menoleh ketika mendengar suara baru.
- Dia akan memperhatikan kipas yang berputar.
- Dia akan berusaha meraih benda yang ada di depannya.
- Dia akan memasukkan benda ke mulutnya untuk mengenali tekstur.
- Dia akan mengulang gerakan yang sama berkali-kali hanya untuk memahami apa yang terjadi.
Tidak ada yang memberi instruksi.
Tidak ada yang berkata, “Sekarang waktunya belajar ya.”
Tapi dia belajar.

Trus berjalan waktu, anak mulai bisa merangkak. Tiba-tiba seluruh rumah jadi tempat penelitian. Laci dibuka. Sendal dipindah. Tombol dipencet-pencet. Panci dipukul meriah sekali. Kardus disulap jadi rumah. Wkwkwk
Kadang kita menganggap itu “berantakan”. Padahal bisa jadi dia sedang melakukan eksperimen perdananya — yang entah berakhir sukses, atau kacau haha.
Dalam hati mereka mungkin gini,
“Oh kalau dijatuhkan bunyinya gimana ya?”
“Oh ternyata kalau ditumpuk bisa tinggi-tinggi!”
“Oh kalau saya dorong, benda ini bergerak ya.. ”
Lalu masuk usia balita. Fitrah belajar itu makin kelihatan.
Anak tidak pernah kehabisan pertanyaan.
- Kenapa hujan turun?
- Kenapa bulan ikut kita jalan?
- Kenapa ikan tidak tenggelam ya? Tidurnya koq enggak merem yak?
- Kenapa semut jalannya baris bareng-bareng?
- Kenapa daunnya jatuh sendiri?
Dan menariknya…
Mereka bertanya bukan karena ingin dapat nilai atau takut ditanya heheh (kek kita ya, takut ditanya)
Bukan karena akan ada ujian. Bukan karena disuruh.

Tapi ya karena memang benar-benar ingin tahu. Mereka ingin memahami dunia. Bahkan ketika mencoba sesuatu dan gagal total, mereka tidak menyerah. Biasa aja gitu. haha iri kan sama anak-anak dalam menyikapi kegagalan?
Belajar pakai sendok tumpah. Coba lagi.
Belajar pakai baju terbalik. Coba lagi.
Menyusun balok roboh. Bangun lagi.
Menggambar tidak mirip. Tetap lanjut.
Seolah ada suara dalam dirinya yang berkata:
“Belum bisa sekarang, ya coba lagi.”
Dan bukankah itu sebenarnya bentuk belajar yang sangat natural? Yang kadang justru mulai berkurang ketika kita -orang tuanya- terlalu cepat mengambil alih, terlalu mudah membantu mereka.
Terlalu cepat memberi jawaban. Terlalu cepat mengoreksi. Terlalu cepat menentukan apa yang harus dipelajari. Bahkan terlalu buru-buru melabeli mereka bakal sukses atau gagal dengan proyeknya. Hehe
Padahal anak sering kali sudah tahu kapan dia siap belajar sesuatu.
- Dia mencari sendiri.
- Dia mencoba sendiri.
- Dia mengulang sendiri.
- Dia menemukan sendiri.
Makanya, pada akhirnya muncul pertanyaan…
Kalau sejak awal anak memang punya fitrah sebagai pembelajar — apa tugas kita tuh sebenarnya bukan untuk membuat anak mau belajar ya? Bahwa tugas kita itu menjaga agar fitrah itu tetap hidup dalam diri mereka?
- Menjaga agar rasa ingin tahunya tetap ada.
- Menjaga agar dia tetap berani mencoba.
- Menjaga agar dia tetap menikmati proses menemukan sesuatu yang baru.
Karena mungkin… yang perlu kita rawat bukan semangat untuk berprestasi ini itu... Tetapi justru kita perlu merawat kecintaan anak terhadap proses belajar itu sendiri. Sehingga mudah bagi anak kita menjadi pembelajar seumur hidupnya. Gimana menurutmu, Buk?
.png)
.png)
Post a Comment