curhatibu.com

Literacy Trip ke Museum Prov. Kalbar

 Hari ini, kami berkunjung ke Museum Kalimantan Barat. Belajar di sana. Literacy Trip lah istilah kerennya. hehehe..

Lucunya, beberapa hari sebelum berangkat, justru saya yang paling banyak berpikir. Saya merasa kunjungan ini harus produktif. Harus ada banyak aktivitas. Harus ada worksheet. Harus ada target belajar yang jelas.

Harus ada sesuatu yang bisa dibawa pulang sebagai “hasil”.

Sampai akhirnya saya menyederhanakan semuanya. Cukup membawa beberapa lembar kertas yang dijilid sederhana, sebatang pulpen, lalu mengajak anak-anak berkeliling museum.

Instruksinya pun singkat.

“Cari sampai lima benda yang paling menarik perhatianmu. Gambarkan, lalu tuliskan sedikit tentang benda itu.”

Sesederhana itu.

Dan ternyata…

Justru dari kesederhanaan itulah banyak hal terjadi.

Ketika Rasa Ingin Tahu Mengambil Alih

Anak-anak ternyata tidak pernah kehabisan pertanyaan. Setiap sudut museum memunculkan rasa penasaran baru.

“Ini buat apa?”, “Kenapa bentuknya seperti ini?”,

“Dulu orang pakainya bagaimana?”

Pertanyaan demi pertanyaan datang tanpa jeda.

Dan di tengah perjalanan, saya sadar…

Tantangan terbesar ternyata bukan berjalan mengelilingi museum.

Bukan juga memastikan semua aktivitas selesai.

Tetapi menjawab pertanyaan yang terus bermunculan.

Rasanya bukan kaki yang paling lelah hari itu.

Melainkan tenggorokan yanggg….hauuuus hehe

Karena terus mengobrol. Terus mendengarkan. Terus mencoba menemani rasa ingin tahu mereka.

Dan entah kenapa, justru rasanya menyenangkan.

Ketika Dokumentasi Tidak Lagi Jadi Prioritas

Btw, saya kehilangan banyak momen untuk mengambil foto. Kalau pun kefoto, blur haha..

Press enter or click to view image in full size
Lumayan yang ini oke lah, meskipun jadi gelap karena membelakangi matahari T.T

Bukan karena lupa. Melainkan karena lebih sibuk menemani mereka memperhatikan benda-benda yang mereka temui.

Lebih sibuk ikut melihat apa yang mereka lihat.

Lebih sibuk mendengar cerita dan pertanyaan yang muncul tiba-tiba.

Dan ternyata… Yaaaa Itu tidak masalah.

Karena target ke sana kan memang bukan tentang menghasilkan dokumentasi yang bagus, atau bikin vlog, apalagi jadi konten kreator ya..


DAAAN…. bukan untuk koleksi foto2. Bukan.

Hari itu adalah tentang memberi ruang bagi rasa ingin tahu mereka.

Dan mungkin memang ada momen yang lebih baik disimpan di kepala dibandingkan di galeri.

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size

Museumnya Sih Sama.. Cara Belajarnya yang Berbeda

Yang membuat saya tersenyum adalah melihat bagaimana setiap anak ternyata punya cara belajar yang berbeda.

Ada yang hampir tidak berhenti bertanya. Ada yang diam-diam mengamati, lalu menuangkannya menjadi gambar-gambar yang cukup detail (kuat banget visualnya). Ada yang begitu tertarik dengan artefak budaya sehingga ingin terus melihat lebih dekat — dan ingin dateng lagi di suatu saat nanti untuk mengamati yang terlewat dilihat dengan seksama.

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size

Padahal kan, yaa mereka berada di museum yang sama. Melihat benda yang sama. Mendapat instruksi yang sama. Tetapi menjalani pengalaman belajar yang berbeda.

Dan mungkin memang seperti itulah BELAJAR. Bukan tentang bagaimana semua anak mendapatkan hal yang sama, dengan cara yang sama. Namun, bagaimana setiap anak menemukan hal yang berbeda dari pengalaman yang sama.

Ketika Obrolan Menjadi Bagian dari Belajar

Setelah selesai berkeliling, kami tidak langsung pulang. Kami duduk di sebuah kafe. Membuka buku kecil masing-masing.

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size

Lalu saling bercerita.

Mengapa memilih benda itu? Apa yang menarik? Apa yang dipelajari?

Tanpa sadar, mereka sedang belajar banyak hal sekaligus.

  1. Belajar menyampaikan pendapat.
  2. Belajar mendengarkan orang lain.
  3. Belajar mengajukan pertanyaan
  4. Belajar menghargai sudut pandang yang berbeda.
  5. Bahkan konflik kecil sepanjang perjalanan — berebut ingin berbicara lebih dulu, ingin duduk di tempat tertentu, sampai urusan sedotan minuman — ikut menjadi bagian dari proses belajar hari itu.

Dan mungkin memang begitu ya.

Belajar tidak selalu terlihat seperti belajar.

Jejak Rasa Ingin Tahu yang Dibawa Pulang

Di akhir perjalanan, mereka berhasil membawa pulang satu buku kecil berisi gambar-gambar benda yang menarik perhatian mereka.

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size

Mungkin bagi orang lain, itu hanya coretan dengan pulpen.

Tidak rapi. Tidak sempurna. Tidak seperti worksheet yang penuh jawaban benar.

Tetapi bagi saya… Buku kecil itu adalah jejak rasa ingin tahu.

Hari ini mengingatkan saya bahwa literacy trip tidak selalu harus dipenuhi aktivitas yang rumit. Kadang cukup memberi anak ruang untuk melihat. Bertanya. Menggambar. Lalu bercerita.

Begitulah belajar secara alami, natural terjadi saja dalam kehidupan kita, sebenarnya : Belajar yang dimulai dari sepasang mata yang berbinar ketika menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran, lalu bertanya dan mencari tau, hingga menemukan sesuatu.

Semoga bermanfaat.. Sampai jumpa di catatan Literacy Trip selanjutnya yaa..

Press enter or click to view image in full size

Ada yang mau ikut ke lokasi selanjutnya?

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)