Saya ngobrol dengan beberapa orang praktisi homeschooling. Sudah 5–8 tahunan mereka berkecimpung di dunia per-homeschooling-an ini. Hampir semuanya merasakan dinamika emosional yang sama. Apa itu?

Ya, di awal, sebagian mereka berkisah tentang beratnya memulai perjalanan homeschooling. Sehari-hari penuh rasa bersalah, rasa tidak mampu dan perasaan tidak cukup atas apa yang dilakukannya dalam proses membimbing anak-anak. Terbiasa melakukan hal sempurna juga membuat sebagian merasa frustasi atas banyaknya kekurangan yang didapati sepanjang perjalanan itu.
Namun, pada akhirnya, mereka menyadari, ternyata ada yang missed dari pemahaman sebagian mereka tentang homeschooling ini.
Ya, homeschooling memang keluar dari lingkungan formal dalam pembelajaran. Mereka telah melakukan itu. Sayangnya, sebagian dari mereka masih membawa situasi formal itu ke rumah. Model belajarnya, jadwal belajarnya, makna belajarnya, target belajarnya, materi belajarnya, ritme kesehariannya. Hanya berpindah tempat, dari awalnya di ruang kelas, sekarang menjadi ke ruang tamu atau mungkin ruangan yang benar-benar didesain khusus dengan meja dan kursi ala anak sekolahan.
Ya, memindahkan sekolah ke rumah.
Apa yang terjadi? Ya, burn out. Hehe.. rumah menjadi tempat yang malah penuh tekanan. Sebab, bagaimana bisa, rumah yang dalam pandangan umum adalah tempat istirahat, tempat bersantai, tiba-tiba diubah menjadi tempat yang bahkan lebih serius daripada ruang kelas? Anak pusing, tertekan. Orang tua lebih lebih lagi — semua berjalan jauh dari ekspektasinya. Lalu, merasa capek, lelah.. dan akhirnya, MELEDAK hehe..
Padahal, jika mau sedikit saja menggeser mindset itu, homeschooling bakal menjadi perjalanan yang menyenangkan — seharusnya.
Seperti apa? Ya, menggeser, atau…hmmm menghapus mindset bahwa homeschooling itu sama dengan school at home. Hapus itu!
Jangan bawa kursi dan meja ala persekolahan itu ke rumah. Jangan bawa suasana bel masuk dan bel pulang itu ke rumah. Jangan bawa daftar tugas dan PR itu ke rumah. Jangan bawa rentetan jadwal ujian itu ke rumah.
Bukankah di sekolah itu tidak hanya urusan tugas, PR, ujian, belajar? Ada banyak hal lain yang dilakukan dan didapatkan seorang anak di sekolah — tidak sekedar urusan akademik.
TAPI.. kenapa yang dibawa “pulang” dalam homeschooling-nya hanya tentang akademiknya saja?

Justru, ketika di rumah, urusan akademik itu bisa menjadi lebih fleksibel — karena sangat punya ruang untuk menyesuaikan kebutuhan dan progress anak satu per satu. Lebih rileks harusnya — bukan malah jadi bikin anak tambah ngerasa dikejar-kejar dan ibunya merasa makin tertekan karena takut anak ketinggalan.
Maka, beberapa ibu praktisi, yang saya temui, beriring perjalanan pengalaman mereka, menyadari hal-hal itu. Semakin memahami bahwa homeschooling tidak sama dengan schooling. Ada banyak hal yang tidak bisa begitu saja diadaptasi di rumah, atas apa-apa yang biasanya dilakukan di sekolah. Karena sekali lagi, rumah bukan sekolah.
Pada akhirnya, kesadaran itu membuat para ibu lebih rileks, lebih tenang, tidak lagi takut ketinggalan karena sekarang, “homeschooling-ku tidak lagi sama”.
Dan satu hal lagi >>> mereka tidak lagi takut anaknya tidak belajar.
Lhoh? Mereka tidak takut kalau anaknya tidak belajar?
Iya, sebab, makna belajar dalam benak mereka tidak lagi sama seperti saat mereka belum menjalani homeschooling. Apa itu?
Next post >>>
#part2 #SeriesPengalamanHomeschooling
.png)
.png)
Post a Comment