Semua berawal dari pertanyaan di benak, saat bertemu dengan teman-teman ibu homeschooling. Mereka menjalani homeschooling sudah lama. Ada yang sudah sampai 5 tahun, lebih dari 10 bahkan hingga 20-an tahun.
Koq bisa ya selama itu?
Bukankah…. seorang ibu sudah sangat disibukkan dengan berbagai peran lainnya — sebelum menjadi seorang ibu homeschooling?
Ngurus anak-lah, ngurus rumah tangga-lah, ngurus suami, belum lagi kalau ngurus kerjaan sendiri. Hehe.. Tapi…

Koq ada ya, ibu-ibu yang mau nambah “bebannya” dengan peran baru sebagai ibu homeschooling. Kan enak ya kalau udah aja tinggal nganter anak ke sekolah, gak perlu pusing mikirin printilan2 pembelajaran anak-anak sehari-hari. Belum lagi kalau dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis. Riset menunjukkan ibu-ibu yang “menapaki” perjalanan homeschooling ketika covid nampak berkurang “kewarasannya”. Lha iya koq ada yang bertahan puluhan tahun.
Terlepas dari pemaknaan yang berbeda dari istilah homeschooling yang dilakukan pada saat pandemi (yang sebenarnya lebih cocok disebut school at home) dan homeschooling yang sesuai filosofi pendidikan awalnya; peran ibu tentu bertambah berat, bukan?
Namun, koq ya homeschooling ini dipilih sebagian keluarga muslim. Mereka menganggap homeschooling ini berkesuaian dengan nilai, keyakinan dan tujuan pendidikan. Meskipun menyadari adanya banyak PR di belakangnya. Termasuk bagaimana seorang ibu akan bisa handle perjalanan itu dengan baik.
Well.. Selama ini penelitian tentang homeschooling hanya banyak dibahas pada urusan teknis, mekanisme yang terjadi, perbandingan anak HS dan non HS, perkembangan kognitif, spiritual, emosional dari homeschooler (anaknya). Untuk pembahasan tentang ibu masih minim. Sekalipun ada, dibahas psikologis ibu yang homeschooling ketika pandemi itu tadi.
Padahal, makin ke sini, makin banyak keluarga Indonesia, terutama yang muslim, memilih homeschooling sebagai pilihan model pendidikan untuk anak-anaknya. Tapi..apakah mereka sudah paham bagaimana seluk beluk perjalanan yang akan dilaluinya, khususnya oleh seorang ibu yang bakal bener-bener intens membersamai perjalanan HS itu?
Apakah benar, seorang ibu sudah siap? Apakah ibu sudah yakin? Apakah tau apa tantangan apa yang akan dihadapinya? Dan…apakah ibu yakin, ibu bisa “menikmati” perjalanan ini sebagaimana para praktisi senior yang sudah “meluluskan” anaknya dari per-homeschooling-an ini?
Itulah akhirnya muncul pertanyaan (dan sekaligus kebutuhan untuk meneliti) tentang bagaimana sih pengalaman ibu menjalani homeschooling-nya selama ini? Bagaimana ibu memaknai perjalananya itu? Apa yang membuat ibu kuat dalam prosesnya yang tidak mudah itu? Apa sih “why” di balik keputusan besar ibu di sana?
Itulah kenapa setahun ini berkutat di sini — topik topik ibu yang menjalani homeschooling. Meskipun sebenarnya, penelitian terkait terkait keluarga homeschooling sudah pernah menjadi tugas akhir ketika menempuh jenjang sarjana. Namun saat itu, pembahasannya terkait pola komunikasi yang terjadi dalam keluarga. Ternyata lanjut riset hingga tesis ingin menggali lebih jauh tentang HS.
Dan… Inilah rangkaian hikmah yang saya kumpulkan dari perjalanan ibu homeschooling. Semoga bermanfaat >>> next post
.png)
.png)
Post a Comment