curhatibu.com

Mengenali Obstacle dan Trigger dalam 8 Fitrah Kehidupan

Kadang kita merasa sudah tahu diri kita sendiri. Tahu apa yang kita suka, tahu apa yang tidak kita suka, tahu kegiatan apa yang membuat kita bersemangat, bahkan tahu hal-hal apa yang membuat kita lelah. Tetapi ketika diminta menjelaskan “Apa yang sebenarnya membuat saya berkembang?” dan “Apa yang membuat saya justru menjauh dari kondisi terbaik diri saya?”, ternyata tidak selalu mudah menjawabnya.

Dalam Fitrah Based Life, salah satu cara untuk mulai mengenali diri adalah dengan melihat berbagai sisi kehidupan melalui fitrah yang ada dalam diri kita. Bukan hanya fitrah spiritual, tetapi juga kesehatan, belajar, keluarga, sosial, estetika, pekerjaan, hingga personal growth.

Menariknya, dalam setiap sisi kehidupan itu kita bisa melihat dua hal: obstacle atau halangan, dan trigger atau pemicu.


Foto oleh David McElwee: https://www.pexels.com/id-id/foto/gerbang-terkunci-keamanan-pembatas-12785130/

Sederhananya, kita bisa bertanya: “Apa yang biasanya membuat saya terhambat?” lalu dilanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang biasanya membuat saya kembali bergerak ke arah yang baik?”

Dari dua pertanyaan sederhana ini, ternyata kita bisa mulai membaca pola diri.

Fitrah Spiritual: Apa yang Membuat Saya Dekat atau Jauh?

Pada bagian fitrah spiritual, misalnya, obstacle yang ditemukan adalah kurang kedekatan. Artinya, ada kondisi tertentu yang membuat hubungan spiritual kita melemah atau membuat kita merasa semakin jauh.

Lalu trigger-nya adalah berkumpul dengan orang shalih.

Ini menarik, karena kadang kita berpikir bahwa perubahan spiritual hanya persoalan kemauan dari dalam diri. Padahal lingkungan juga bisa menjadi pemicu yang sangat kuat.

Ketika kita menyadari bahwa berkumpul dengan orang-orang shalih membuat kita lebih mudah mengingat Allah, lebih semangat melakukan kebaikan, atau lebih terdorong memperbaiki diri, maka hal tersebut bisa menjadi bagian dari life planning kita.

Bukan sekadar, “Saya ingin lebih dekat dengan Allah.”

Tetapi mulai lebih konkret: “Lingkungan seperti apa yang perlu saya hadirkan dalam kehidupan saya agar saya lebih mudah mendekat kepada Allah?”

Fitrah Kesehatan: Apa yang Membuat Tubuh Terjaga?

Kemudian ada fitrah kesehatan. Di sini kita juga diminta melihat apa obstacle dan trigger yang ada dalam diri.

Tidak semua orang memiliki hambatan yang sama dalam menjaga kesehatan. Ada yang sulit menjaga pola makan. Ada yang sulit tidur cukup. Ada yang sulit konsisten bergerak. Ada juga yang sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak memiliki lingkungan atau kebiasaan yang mendukung.

Karena itu, penting untuk tidak hanya membuat target seperti, “Saya harus hidup lebih sehat.”

Tetapi juga mengenali: apa yang biasanya membuat saya gagal menjaga kesehatan, dan apa yang justru membuat saya lebih mudah menjalaninya?

Dengan begitu, kita tidak hanya membuat target, tetapi memahami pola diri sendiri.

Fitrah Learning: Bagaimana Saya Belajar dengan Lebih Baik?

Ada juga fitrah learning, yang dalam catatan ini memiliki skor 7. Angka ini menjadi bagian dari hasil pemetaan diri yang sedang dilakukan.

Yang menarik, belajar pun ternyata perlu dilihat dari sisi obstacle dan trigger.

Sebagai ibu, mungkin kita merasa ingin terus belajar. Ikut kelas, membaca buku, menonton kajian, belajar parenting, belajar pendidikan anak, belajar homeschooling, dan berbagai hal lainnya.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan: Apa yang sebenarnya membuat saya sulit belajar?

Apakah karena tidak punya waktu?

Apakah karena terlalu banyak distraksi?

Apakah karena belum menemukan cara belajar yang sesuai?

Atau justru kita sebenarnya sangat mudah belajar ketika menemukan topik yang kita sukai?

Maka mengenali trigger menjadi penting. Ketika kita tahu kondisi seperti apa yang membuat kita mudah belajar, kita bisa menciptakan kondisi tersebut dengan lebih sengaja.

Karena belajar bukan hanya tentang “saya mau belajar apa?”, tetapi juga “dalam kondisi seperti apa saya bisa belajar dengan baik?”

Family Life: Karena Ibu Tidak Hidup Sendirian

Kemudian ada family life.

Ini menjadi bagian yang sangat penting untuk seorang ibu karena kehidupan ibu sangat erat dengan kehidupan keluarga. Apa yang terjadi dalam diri ibu sering kali berhubungan dengan bagaimana ia menjalani kehidupan bersama pasangan dan anak-anak.

Maka kita bisa mulai melihat: apa yang menjadi obstacle dalam family life saya?

Apa yang membuat hubungan dalam keluarga terasa berat?

Apa yang membuat komunikasi tidak berjalan baik?

Apa yang membuat ibu mudah lelah secara emosional?

Dan sebaliknya, apa yang menjadi trigger untuk kebaikan dalam keluarga?

Apakah waktu khusus bersama keluarga? Ngobrol tanpa distraksi? Makan bersama? Berkegiatan bersama anak? Atau justru memiliki waktu sendiri terlebih dahulu agar ibu bisa kembali hadir dengan kondisi yang lebih baik?

Mengenali pola ini membuat kita tidak sekadar berkata, “Saya ingin keluarga yang bahagia.”

Kita mulai melihat apa yang sebenarnya perlu dilakukan untuk menciptakan kondisi tersebut.

Fitrah Sosial: Tidak Harus Selalu Bertemu Banyak Orang

Pada fitrah sosial, catatan menunjukkan sesuatu yang sangat personal: obstacle-nya adalah tidak suka bertemu banyak orang, sementara trigger-nya adalah lebih suka jika bertemu secara privat dan lebih dekat dengan seseorang.

Ini contoh yang menarik bahwa mengenali fitrah bukan berarti kita harus memaksakan diri menjadi seperti orang lain.

Ada orang yang senang berada di keramaian.

Ada yang justru lebih hidup ketika berbicara mendalam dengan satu atau dua orang.

Maka ketika seseorang menyadari bahwa dirinya lebih nyaman membangun hubungan secara privat dan dekat, itu bisa menjadi informasi penting tentang bagaimana ia menjalani kehidupan sosialnya.

Tidak harus memaksakan diri menjadi orang yang selalu hadir di banyak acara hanya karena merasa “seharusnya” seperti itu.

Bisa jadi, kualitas hubungan yang dibangun justru lebih penting daripada jumlah orang yang ditemui.

Fitrah Aesthetic Life: Membaca Apa yang Membuat Kita Hidup

Kemudian ada fitrah aesthetic life.

Di sini kita kembali diminta melihat dua sisi: apa yang menjadi obstacle dan apa yang menjadi trigger.

Aesthetic life tidak hanya soal apakah kita bisa menggambar atau menyukai sesuatu yang indah. Lebih luas dari itu, kita perlu mengenali apa yang membuat kita merasa nyaman, tertarik, hidup, dan menikmati keindahan yang ada di sekitar.

Bagi seseorang, mungkin ruang yang rapi menjadi trigger. Bagi yang lain, warna, gambar, alam, musik, buku, atau benda-benda tertentu bisa menjadi sumber energi.

Maka mengenali aesthetic life juga bisa membantu kita memahami: lingkungan seperti apa yang membuat saya lebih nyaman menjadi diri sendiri?

Worklife: Apa yang Membuat Kita Bertumbuh dalam Pekerjaan?

Berikutnya ada worklife.

Dalam konteks ibu, worklife tentu tidak selalu harus dimaknai sebagai pekerjaan formal. Ibu yang mengurus rumah, mendidik anak, menjalankan bisnis, bekerja profesional, atau mengerjakan berbagai aktivitas produktif lainnya juga memiliki kehidupan kerja yang perlu diperhatikan.

Di bagian ini kita bisa melihat kembali: apa yang menjadi penghambat dalam menjalankan pekerjaan atau peran kita?

Apa yang membuat kita kehilangan energi?

Dan apa yang justru membuat kita merasa pekerjaan yang dilakukan memiliki makna?

Ini penting karena pekerjaan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga bagaimana pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Personal Growth: Apakah Saya Sedang Bertumbuh?

Lalu ada personal growth. Dalam catatan ini, nilainya 7.

Pertanyaan besarnya sederhana: “Apakah saya sedang bertumbuh?”

Pertumbuhan pribadi tidak selalu terlihat dalam bentuk pencapaian besar. Kadang justru terlihat dari kemampuan kita menghadapi sesuatu yang dulu sulit dilakukan.

Dulu mudah marah, sekarang mulai bisa menahan diri.

Dulu mudah menyerah, sekarang mulai mencoba lagi.

Dulu tidak tahu harus ke mana, sekarang mulai bisa menentukan prioritas.

Dulu tidak mengenal diri sendiri, sekarang mulai memahami pola diri.

Maka personal growth juga perlu dilihat dari obstacle dan trigger. Apa yang biasanya membuat kita berhenti bertumbuh? Dan apa yang membuat kita kembali bergerak?

Obstacle dan Trigger Bukan Sekadar Catatan

Kalau diperhatikan, pemetaan ini sebenarnya bukan sekadar mengisi kolom obstacle dan trigger.

Kita sedang belajar membaca diri.

Kita sedang mencari pola.

Karena bisa jadi selama ini kita hanya tahu bahwa, “Saya sulit melakukan ini.” Tetapi belum pernah berhenti untuk bertanya, “Kenapa saya sulit?”

Atau kita tahu bahwa ada aktivitas tertentu yang membuat kita bersemangat, tetapi belum pernah berpikir, “Kenapa saya justru menjadi lebih baik ketika melakukan ini?”

Padahal ketika pola itu ditemukan, kita bisa mulai membuat strategi.

Kalau berkumpul dengan orang shalih menjadi trigger spiritual, maka kita perlu membuat ruang untuk itu.

Kalau bertemu satu orang secara privat membuat kita lebih nyaman secara sosial, maka tidak perlu memaksakan diri harus selalu berada di keramaian.

Kalau ada kondisi tertentu yang selalu membuat kita gagal menjaga kesehatan, maka kondisi tersebut perlu dikenali dan diantisipasi.

Jadi, trigger bukan hanya sesuatu yang kita catat. Trigger bisa menjadi sesuatu yang sengaja kita hadirkan dalam kehidupan.

Begitu juga dengan obstacle. Ia bukan sekadar sesuatu yang kita keluhkan, tetapi sesuatu yang perlu kita kenali agar bisa dibuatkan jalan keluarnya.

Dari Mengenali Diri, Menuju Life Planning

Dan di sinilah menariknya.

Kita tidak bisa membuat life planning yang baik kalau kita tidak mengenal diri sendiri. Karena kalau tidak tahu siapa diri kita, apa yang menguatkan kita, apa yang melemahkan kita, dan apa yang menjadi pola kehidupan kita, akhirnya planning hanya menjadi daftar keinginan.

“Saya ingin lebih sehat.”

“Saya ingin lebih dekat dengan Allah.”

“Saya ingin lebih banyak belajar.”

“Saya ingin keluarga lebih harmonis.”

“Saya ingin lebih produktif.”

Semuanya baik.

Tetapi pertanyaannya: bagaimana?

Mungkin jawabannya bisa mulai ditemukan dari pemetaan sederhana ini.

Lihat satu per satu kehidupan kita. Spiritual life, kesehatan, learning, family life, social, aesthetic life, worklife, dan personal growth.

Lalu tanyakan pada diri sendiri:

Apa obstacle saya?

Apa trigger saya?

Dari sana, kita mulai menemukan diri.

Dan ketika kita mulai mengenal diri, kita bisa mulai menyusun kehidupan dengan lebih sadar. Bukan sekadar mengikuti apa yang dilakukan orang lain, tetapi mulai membuat kehidupan yang sesuai dengan fitrah, kemampuan, kondisi, dan arah perjuangan yang ingin kita jalani.

Karena mungkin, salah satu bentuk belajar yang paling penting bagi seorang ibu bukan hanya belajar tentang anak, parenting, homeschooling, atau pendidikan.

Tetapi juga belajar membaca dirinya sendiri.

Supaya ketika nanti harus menentukan mau membawa keluarga ke mana, apa yang ingin diperjuangkan, dan seperti apa kehidupan yang ingin dibangun, kita tidak lagi berjalan dengan sekadar mengalir.

Kita tahu apa yang menghambat.

Kita tahu apa yang menguatkan.

Dan perlahan, kita mulai tahu ke mana sebenarnya ingin berjalan.

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)