curhatibu.com

Mengapa Usia 40 Tahun?

 Ada yang bilang, manusia harus sudah menemukan misi hidupnya, maksimal di usia 40 tahun. Mengapa? Supaya pada usia 60–70 tahun dia sudah bisa berada di masa paling produktif dalam hidupnya.

Press enter or click to view image in full size
Foto oleh Calwin Veigas : https://www.pexels.com/id-id/foto/siluet-pria-merayakan-di-puncak-gunung-35198761/

Ya, kita sebut ini mission of life. Next calling. Panggilan jiwa. Ini harus ditemukan, kurang lebih di usia 40 tahun. Itulah kenapa saat kita berada di usia 30-an tahun, atau menjelang 40 tahun, ada perasaan gelisah. Ternyata memang jiwa sedang ingin “ditarik” ke arah yang benar — kepada perjalanan yang memenuhi panggilan jiwanya.


Usia 40 ini, biasanya orang sudah selesai dengan dirinya. Tidak lagi egosentris, namun cenderung theosentris. Minat seseorang terhadap religiusitas lebih meningkat di usia ini (setelah sebelumnya masih cukup tipis). Bahkan di banyak negara, usia 40 jadi patokan tertentu, seperti di negara kita, jadi batas usia wapres (pada waktu itu hehe). Presiden pertama kita juga menjadi presiden di usia 44 tahun. Bill Clinton di usia 46 tahun, dll.

Dalam agama, usia 40 tahun ini juga istimewa, bukan? Makanya sampai ada doa tentang pengharapan kebaikan untuk usia 40 tahun. Usia 40 ini bukan usia menjelang kita pensiun dini — tapi justru usia seseorang menemukan makna hidupnya, panggilan jiwanya, sebagai hamba Allah, dan menjadikan usia ini sebagai titik pacuan amal menuju surga. Tidak lagi terobsesi dengan dunia (harusnya).

Maka menjadi menarik, pertanyaan mengapa harus 40 tahun? Kalau dalam psikologi, seorang tokohnya, yaitu Hurlock menyebutkan kematangan seseorang tercapai sampai usia kira-kira 40 tahun, sejak 15 tahun.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan menjelang usia 40 tahun, yang tinggal sebentar lagi? Ya, menemukan mission of life. Bagaimana caranya? Next post >>> hehehehe #seriesFBL

Post a Comment

Terimakasih udah mampir di blog ini, happy reading :)